Minggu, 27 Oktober 2019

Bagaimana Seharusnya Pemuda



“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Sumeru dari akarnya, Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia” –Bung Karno

Etimologi Pemuda berasal dari bahasa Arab disebut dengan Syabab yang bermakna kuat, muda, indah dan berkembang. Sedangkan menurut Mulyana (2011) pemuda adalah individu yang memiliki karakter dinamis yang artinya bisa memiliki karakter yang bergejolak, optimis dan belum mampu mengendalikan emosi yang stabil.

Hal tersulit bagi penulis dalam menyelesaikan tulisan ini adalah bagaimana penulis harus menjadi teladan. Karena subtansi tulisan ini merupakan bentuk eksistensi pemuda yang semestinya ada.  Siapa yang tak ingin menjadi muda atau siapa yang tak ingin menjadi bintang yang paling terang diantara benda angkasa yang lainnya. Semua yang kini menjadi tua tentu pernah melalui bagaimana menjadi muda tapi tidak semua yang muda mampu menua.

Dulu pemuda dikenal sebagai sosok algojo terbaik nan berani, cerdas nan cendekia, hari dengan sederet prestasi, kepekaan sosial yang tinggi dan selalu menempati posisi terdepan dalam rana revolusi. Menjelang hari sumpah pemuda, apakah pemuda yang heroik masih ada pada era milenial saat ini  ? atau rupa pemuda sudah ditenggelamkan oleh kegelapan zaman dan teknologi  ?

Usia Produktif

Pemuda selalu identik dengan usia yang produktif. Pemuda digadang gadang sebagai pelopor dan mampu memproduksi sesuatu untuk kemajuan peradaban. Namun yang terjadi saat ini adalah sebaliknya. Usia yang seharusnya produktif, malah tidak produktif. Usia dimana kita seharusnya berkontribusi entah itu karya, inovasi dan lain sebagainya kita malah terjebak dalam labirin ketidakproduktifan. Kita terjebak pada kesenangan, kemudahan, keinstanan hampir disetiap aspek kehidupan. Sehingga menyeret kita dalam garis dan ruang ketidakmampuan memproduksi apa apa. Kita hanya menikmati sesuatu tanpa memikirkan bagaimana cara menciptakan sesuatu untuk orang lain nikmati. Bisa dikatakan, pemuda dikuasai ego keserakahan dalam  mengkonsumsi produk. Kita dipaksa untuk berdiri pada posisi yang sebenarnya membuat risih tapi sisi lain bingung mau berbuat apa. Lagi lagi hal ini karena keterbasan ketidakmpuan kita akan suatu hal yang dibutuhkan. Ketidaktahuan kita meramalkan bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Sehingga mematikan langkah dan pola pikir kita untuk tidak memikirkan tentang itu semua, memaksa kita tetap pada ruang ketidakmampuan apa apa.

Pengaruh keluarga dan lingkungan

Dalam kamus Sosiologi dikenal 4 tahap dalam proses sosialisasi. Tahap persiapan dipahami sabagai tahap dimana peran orang tua sangat dibutuhkan sebagai pengasuh dan pendidikan utama bagi setiap anak. Tahap meniru dimana anak mulai mampu menirukan aktivitas ringan orang orang disekitarnya. Tahap siap bertindak ditandai dengan kemampuan anak yang sudah mampu melakukan aktivitas tanpa harus meniru. Proses sosialisasi yang terakhir  adalah tahap dimana setiap individu sudah dianggap siap beradapsi dengan masyarakat yang kompleks serta siap menerima nilai nilai kolektif termasuk nilai dan norma yang ada lingkungannya.

Pemuda dari perspektif Sosiologi Pendidikan

Apa tujuan pendidikan sebenarnya  ? apakah pendidikan untuk mengajarkan budaya da nilai nilai masyarakat kepada para pemuda  ? Pendidikan saat ini tidak lain untuk menyiapkan pemuda menuju dunia kerja, untuk mereproduksi sistem kelas dan mengajar orang tentang kedudukan mereka dalam kehidupan, untuk menghindari anak anak berkeliaran di jalanan hingga mereka cukup usia untuk bekerja serta untuk menciptakan tenaga kerja terlatih. Tak perlu heran sehingg mengapa generasi muda saat ini setelah menyelesaikan pendidikan pikirannya bagaimana cara mendapat pekerjaan. Yang menjadi promlem besarnya adalah calon pekerja tidak memiliki kemampuan dalam bidang pekerjaan tertentu. Hal ini kita sadari bersama menjadi menyebab pengangguran skala besar. faktanya lembaga penyumbang pengangguran terbesar berasal dari lembaga pendidikan.

Seharusnya pemuda hadir dengan kecakapannya dalam menciptakan lapangan kerja agar dapat memperkerjakan, seharusnya pemuda muncul sebagai sosok yang memprakarsai inovasi dan berkarya dalam menciptakan keseimbagan masyarakat bukan hanya untuk kepentingan negara semata. Akhir kata penulis berpesan khusus pada dirinya sendiri dan para pemuda agar dapat berkontribusi apapun itu untuk kemajuan bangsa da negara.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke 91 tahun

Rabu, 28 Agustus 2019

PERLUKAH KITA MELANGGENGKAN BUDAYA SENIORITAS ?

Fakultas Ilmu Sosial 
Selamat datang mahasiswa baru. Kini status siswa berubah menjadi mahasiswa yang digadang gadang adalah tanggung jawab besar. Seperti pepatah, semakin tinggi suatu pohon maka semakin kencang ia diterpa angin. Menjadi mahasiswa tidak ada jaminan untuk sukses dan bahagia. Sebab sukses bukan tentang siapa yang lebih dulu selesai tetapi seberapa ia mampu mengaplikasikan disiplin ilmunya untuk kebaikan manusia dan dirinya karena sebaik baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama bukan mereka yang lulus cepat dengan predikat Cum Laude.

Diakui atau tidak diakui. Rasa deg degan atau was was akan kalian rasakan sebagai mahasiswa baru. Terlebih bagi mereka yang kuliah jauh dari keluarga. Mengingat musim mahasiswa baru, penulis tertarik untuk sedikit banyak memberikan pandangannya tentang budaya senioritas yang sampai sekarang masih membumikan dirinya dan terkadang menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa baru. Dikatakan budaya karena istilah senioritas lahir dari proses yang panjang lalu kemudian menghadirkan dirinya pada labirin pendidikan Indonesia.

Pertanyaan mendasar sesuai tema yang diangkat oleh penulis adalah perlukah kita melanggengkan budaya senioritas  ? Pro dan kontra menjadi sesuatu yang wajar adanya. Ada yang beranggapan bahwa senioritas mampu membuat junior agar lebih mudah mengakses informasi serta beradaptasi dengan iklim kampus. Ada juga yang mengatakan penerapan senioritas supaya terciptanya keseimbangan dalam sebuah kelompok. Ada juga yang mengatakan dengan adanya senioritas maka justru membuka ruang bagi senior untuk menindas dan memperlakukan junior seenaknya bahkan Senioritas menjadi ajang untuk pamer kekuasaan dan kekuatan.

Sejatinya manusia adalah makhluk yang terus berevolusi. Analogi sederhananya adalah manusia merupakan makhluk yang akan terus bereproduksi atau berkembangbiak. Setiap masa ada generasinya, setiap generasi ada masanya. Maka dari itu, menurut penulis istilah junior senior adalah hal yang absolut dengan siklus perputaran yang sama. Istilah junior senior bermakna seragam dengan tua dan muda.

Dalam dunia pendidikan, senior adalah mereka yang terlebih dahulu masuk kampus. Ada juga yang menambahkan bahwa dapat dikatakan sebagai senior jika mereka memiliki pengetahuan yang mempuni dan menjadi teladan bagi yang lain. Sehingga terkadang kita menemukan ada junior yang tidak mau mengakui keberadaan seniornya karena seniornya hanya unggul dari segi umur semata.
Yang menarik  seputar stigma stigma negatif tentang senioritas. Jika mengacu pada peristiwa peristiwa fakta yang terjadi. Atas nama senioritas terjadi perilaku bullying yang dapat berujung pada hilangnnya nyawa seseorang seperti yang terjadi pada siswa Taruna Akademik Teknik Keselamatan Penerbangan (AKTP) Makassar pada bulan februari kemarin. Penulis tidak bermaksud mengeneralisasi bahwa semua senior berperilaku demikian. Senior senior yang mengatasnamakan senioritas untuk memperlakukan manusia dengan buruk penulis kemudian menyebutnya sebagai oknum senioritas. Oknum senior ini bersembunyi dibalik kata senioritas untuk menyiksa dan menyakiti juniornya tanpa rasa bersalah dan beban moral. Alasannya pun beragam. Lucunya, ada yang melakukan tindakan demikian untuk memperoleh penghormatan dari juniornya. Tentu hal ini menurut penulis adalah sesuatu yang sangat keliru. Apakah tidak cara lain agar junior dapat melakukan sesuai keinginan kita  ?. iya,  terkadang jabatan dan pangkat menjadi jalan untuk menindas yang lainnya. Kita terkadang mengaku sebagai kaum terpelajar tapi tidak mencermikan perilaku dan sikap yang terpelajar. Seharunya junior menghargai kita karena mereka bangga dengan yang kita miliki sebagai seniornya. Buatlah junior kita senang dan menghargai kita secara alami bukan dengan metode pemaksaan. Kondisi seperti ini penulis menamainya sebagai kolonialisme modern terhadap  pendidikan Indonesia. 

Hal aneh lainnya adalah oknom senior yang melakukan tindakan diluar batas wajar terhadap juniornya agar junior lebih siap mentalnya dalam menempuh kesehariannya di dunia kampus. Mereka merancang model pengkaderan sedemikian rupa. Pertanyaannya, sebenarnya mental seperti apa yang kita mau bentuk dan tanamkan pada junior kita. Mental intelektual atau mental baja untuk berperang. Masih banyak internal kampus yang menerapkan pola atau model kaderisasi yang menurut penulis buta arah dan tujuan yang justru dapat melemahkah bahkan membunuh mental para juniornya. Kebanyakan dari kita masih tetap mempertahankan pola kaderisasi yang berbau kolonialisme. Dilain hal, ada oknum senior yang menjadikan status seniornya sebagai ruang untuk ajang balas dendam. Hal ini yang menjadi turun temurun layaknya tradisi yang diturunkan pada generasi ke generasi berikutnya. Mereka yang dulunya junior, kini telah menjadi senior terdorong untuk melakukan hal yang sama pada juniornya sekarang. Tidak lengkap rasanya, kalau juniornya tidak merasakan apa yang ia rasakan dulu sewaktu menjadi junior. 

Pemikiran pemikiran seperti diatas menurut penulis adalah wujud kecacatan dalam berpikir. Bagaimana tidak,  melanggengkan dan mewariskan sesuatu yang tidak baik dan sama sekali tidak ada manfaat dan tujuannya merupakan hal terbodoh yang dilakukan para kaum intelektual di zaman sekarang. 

Sebagai penutup, penulis berpesan kepada semua senior di seluruh jenjang pendidikan Indonesia, bahwa semua orang ingin dihargai dihormati dan semacamnya. Sejauh ini, penulis menyadari bahwa ada banyak persepsi dan penilaian tentang senioritas. Budaya senioritas memang perlu tapi melanggengkan perilaku senioritas yang menindas adalah hal yang sangat memalukan bagi diri yang dituakan. Jangan melakukan sesuatu terhadap seseorang yang jika diperlakukan kepada mu kamu tidak menyukainya. Stop mewariskan kejahatan pendidikan, mari putuskan budaya senioritas yang menindas. Hidup Mahasiswa. Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi semua kalangan civitas akademik.

Rabu, 03 Juli 2019

MENUJU KEPUNAHAN MANUSIA MODERN

Wisata Kolam Renang Galesong 

Perkembangan teknologi yang begitu pesat adalah suatu hal yang mengusik diri penulis saat menikmati libur perkuliahan di kampung halaman. Penulis kian terus berpikir bagaimana nasib manusia ke depan dengan teknologi yang kian hari kian berkembang sepesat saat ini. Mungkin 20 sampai 30 tahun kedepan akan ada manusia yang melahirkan robot akibat dari kecerdasan manusia yang mampu membuat rahim buatan atau bisa jadi robot yang malahirkann manusia akibat dari perkawinan silang antara manusia dengan robot. Dalam tulisan kali ini, penulis akan mengajak para pembaca untuk melakukan penetrasi lebih jauh memasuki imajinasi liar dari  penulis. Tak hanya itu, penulis juga mencoba meramalkan bagaimana kehidupan manusia dimasa yang akan datang dengan bercampur baurnya manusia dengan teknologi modern.

Berangkat dari bangunan imajinasi yang dimiliki penulis yang kemudian berujung pada sebuah pertanyaan yang mendasar. Mengapa kemajuan peradaban manusia di identik dengan kemajuan teknologi ? Mampukah manusia hidup tanpa teknologi  ? dan apa dampak berkembangnya teknologi  ?

Menurut wikipedia, Sejarah peradaban manusia selalu disangkutpautkan dengan kemajuan teknologi. Peradaban manusia dianggap mengalami kemajuan jika teknologinya juga maju. Hal ini yag kemudian membangun asumsi penulis bahwa teknologi lahir bersamaan dengan peradaban manusia. Peradaban manusia adalah saudara kembar teknologi yang dilahirkan oleh bumi. Hal serupa dikatakan oleh Ahli antropolog Lewis H.Morgan bahwa perkembangan teknologi adalah faktor utama dari berkembangnya peradaban manusia. Jika Lewis mengatakan bahwa teknologi adalah faktor utama, penulis kemudian memaknai bahwa ada faktor lain selain dari pada teknologi.  Namun menulis belum menemukan alasan faktual kenapa teknologi menjadi faktor utama.

Diluar dari pada asumsi Lewis, penulis berpikir bahwa teknologi bukanlah faktor utama  dari berkembangnya peradaban. Penulis yakin bahwa peradaban manusia dibangun dari ilmu pengetahuan. Iya, karena menurut penulis, teknologi adalah produk dari kecerdasan manusia bukan produk mesin. Andai kata manusia tidak secerdas itu mana mungkin teknologi dapat diciptakan. Hanya saja, manusia lebih merasakan keuntungan dari penggunaan teknologi sehingga mengasumsikan bahwa teknologi adalah pondasi kemajuan peradabannya. 

Hal menarik berikutnya adalah bagaimana saat ini manusia terlalu terobsesi dari sekian banyak keunggulan dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Sebagian besar manusia menyadari bahwa teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam kesehariannya. Namun dibalik semua itu menurut penulis teknologi dapat menurunkan kemampuan alamiah manusia. Teknologi secara perlahan mengkonstruk pikiran manusia agar segala hal aktivitas manusia akan lebih praktis dilakukan dengan teknologi. Hal ini yang kemudian dapat membuat manusia cendrung malas dan kehilangan hakikatnya sebagai makhluk sosial alamiah. Ketergantungan manusia terhadap teknologi inilah yang menurut penulis akan makin menurunkan etos kerja manusia sehingga bukan tidak mungkin teknologi yang diciptakan dapat melampaui kemampuan manusia itu sendiri. Dengan ketergantungan manusia terhadap teknologi yang kemudian menggiring alam bawah sadarnya bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa teknologi. 

Dengan argumentasi diatas, penulis kemudian menyimpulkan bahwa teknologi tidak lahir dari peradaban manusia tapi peradaban manusialah yang melahirkan teknologi. Menurut logika penulis, teknologi berkembang karena dua faktor yaitu hasrat keingintahuan manusia yang tinggi terhadap sesuatu dan kebutuhan manusia yang kian semakin beragam bentuknya.

Di era revolusi industri 4.0 saat ini menurut penulis adalah era dimana persaingan manusia dan teknologi di filmkan. Dimanapun manusia berada maka teknologi pasti ada. Sungguh ketergantungan yang sudah kualat. 

Perkembangan teknologi yang semakin maju seperti penciptaan robot dengan serba fungsi, tentu menyisahkan kekewatiran penulis terhadap eksistensi manusia di buminya sendiri. Apakah para pembaca tulisan ini mengartikan kemajuan teknologi sebagai simbol kemajuan peradaban manusia atau kemajuan teknologi sekarang ini dianggap sebagai tantangan sekaligus ancaman bagi manusia itu sendiri. Tergantung perspektif kita masing masing.

Namun pada tulisan kali ini, penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh fisikawan Inggris.  Yakni Stephen Hawking yang mengatakan kemajuan dalam bidang teknologi lambat laun dapat mengancam kehidupan manusia. Manusia akan kalah jika ingin bersaing dengan teknologi yang dibuatnya, sebab manusia dibatasi dengan evolusi biologis yang sangat lambat dibanding dengan robot misalnya. Selain itu, penulis menganggap bahwa mesin dapat melakukan pekerjaan lebih baik, bekerja lembur tanpa kelelahan, tidak perlu istirahat, tidak banyak tuntutan serta tidak mengenal diskriminasi umur, gender dan ras dalam melayani manusia. Ditambah lagi, orientasi perusahaan industri sekarang ini beriorientasi pada ke efektifan dan ke efisienan pekerjaan. Artinya apa, jika robot lebih dapat mencapai kedua hal yang menjadi orientasi perusahaan industri tertentu maka penulis berkesimpulan bahwa posisi manusia akan digantikan oleh robot robot yang diciptakannya sendiri. 

Ketakutan ketakutan tersebut menurut penulis di perparah dengan pembuatan film film yang mengusung latar belakang perkembangan dan kemajuan teknologi. Seperti misalnya pada film terminator tahun 1984 yang menawarkan robot dalam bentuk persis manusia yang dilengkapi dengan kekuatan super. Film mini menceritakan seorang robot yang ditugaskan untuk membunuh seorang anak dari seorang ibu yang di ramalkan di masa depan akan menjadi pemimpin melawan mesin mesin dan masih banyak lagi film film yang secara jelas menarasikan bahwa ancaman dari perkembangan teknologi terhadap eksistensi manusia amat teramat jelas nyatanya. 

Belum lagi pembuatan teknologi seperti mobil dan pesawat tanpa pengemudi, robot dengan kemampuan menghancurkan dan teknologi yang dapat membuat manusia hidup kembali setelah meninggal. Penulis kemudian tidak bisa membanyangkan betapa rumitnya kehidupan manusia di masa yang akan datang. 

Sebagai penutup, penulis menawarkan alternatif yang mampu minimalisir kecelakaan teknologi terhadap eksistensi manusia. Penulis menyarankan agar sebaiknya manusia saat ini tidak memilih untuk bersaing dengan teknologi tapi bagaimana manusia menjadi patner dalam memanfaatkan teknologi. Manusia harus berteman dengan teknologi yang mereka buat dan juga manusia sebaiknya memilih disiplin atau tipe pekerjaan yang kira kira tidak mampu dikerjakan oleh teknologi. Jangan sampai manusia menciptakan kepunahannya sendiri dengan membuat teknologi yang notabenya mengancam dan menggatikan peran manusia sebagai khalifah dunia ini.

Rabu, 26 Juni 2019

POLEMIK SISTEM ZONASI

Jalan Camba Maros
Isu terbesar pendidikan Indonesia yang menuai pro kontra saat ini adalah penerapan kebijakan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Pandangan dan penilaian antara Menteri Pendidikan dengan civitas akademik lainnya termasuk masyarakat terlihat jelas bertolakbelakang. Pemerintah mengandalkan sistem zonasi sebagai upaya reformasi pendidikan Indonesia sedangkan masyarakat terus-menerus menyuarakan dampak dari sistem ini.  Penulis menyadari bahwa setiap kebijakan baru, amat sulit terlepas dari pro kontra sebagai respon penerapannya.

Namun dalam tulisan ini, penulis tidak berada dalam posisi pro atau kontra dalam menilai sistem zonasi. Penulis mencoba untuk bagaimana membahas isu ini dengan sudut pandang yang berbeda. Tentu sudut pandang yang murni dari kacamata penulis tanpa dekriminasi dan tetap menjaga titik keseimbangan para pembaca. 

Permendikbud No 54 tahun 2018 merupakan dasar kebijakan sistem ini. Dalam peraturan itu disebutkan bahwa “Sekolah wajib menerima calon peserta didik dengan kouta paling sedikit 80% berdomisi radius zona terdekat dari jarak rumah ke sekolah”. Dalam proses PPDB terbagi menjadi 3 jalur dengan rincian 80% untuk jalur zonasi, 15% jalur prestasi dan 5% untuk jalur perpindahan orang tua wali. 

Sistem zonasi di adopsi dari negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang dan sebenarnya sudah diterapkan pada tahun 2016 hanya saja sistem ini hanya diberlakukan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional. Baru pada tahun 2017, jangkauan sistem ini meliputi UN dan PPDB lalu kemudian disempurnakan tahun 2018 secara bertahap. Menurut kemendikbud, sistem ini diharapkan dapat menghapus label sekolah favorit dan pola pikir kastanisasi pendidikan, menghindari jual beli kursi, mewujudkan pendidikan nondiskriminatif dan objektif, trasnparan, akuntabel dan berkeadilan serta meningkatkan sarana prasarana, kurikulum dan penataan secara menyeluruh sebaran dan kualitas siswa dan guru di sekolah-sekolah Indonesia.

Yang kemudian menjadi pertayaan mendasar adalah mengapa pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan memilih sistem zonasi dalam merespon ketimpangan pendidikan yang dialami Indonesia  ? apakah kebijakan sistem zonasi adalah solusi terbaik untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai  yang diamanahkan konstitusi  ?

Hal utama yang penulis hendak sampaikan bahwa kebijakan sistem zonasi hadir sebagai respon atas terjadinya pola pikir kastanisasi dan pelabelan sekolah favorit yang di produksi oleh masyarakat Indonesia sendiri. Masyarakat meyakini bahwa jika anaknya dapat bersekolah di sekolah favorit maka anaknya dapat menikmati fasilitas dan lulus dengan nilai yang baik pula. Hal ini yang kemudian menimbulkan kasta atau semacam level setiap sekolah. Sekolah yang dilabelkan sekolah favorit atau unggulan dianggap berada pada level tertinggi dalam kasta sekolah di Indonesia. Kalau masyarakat mengkategorikan sekolah favorit adalah sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai maka penulis menilai pernyataan tersebut bisa jadi benar. Jika masyarakat mengkategorikan sekolah favorit adalah sekolah yang memiliki guru yang berkualitas, bisa jadi pernyataan itu juga benar. Atau misal masyarakat mengkategorikan sekolah favorit adalah sekolah yang memiliki output yang sukses didunia kerja, itupun juga bukan masalah. 

Mengapa demikian   ? karena setiap orang punya standar dan indikator masing masing tentang seperti apa itu sekolah favorit. Jika masyarakat menetapkan standar dan indikator tentang sekolah favorit dari segi fasilitas, guru dan alumni yang sukses dalam dunia kerja maka sekolah favorit menurut penulis adalah sekolah yang dapat mewujudkan tujuan pendidikan. Iya, sekolah favorit menurut penulis adalah sekolah yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Dapat mencerdaskan kehidupan bangsa yang dimaksud adalah sekolah yang mampu mendidik dan mencetak generasi intektual sehingga setelah jenjang pendidikan peserta didik selesai maka mereka dapat mengambil peran dalam memajukan bangsa dan negara Indonesia, mereka mampu menjadi pelopor perubahan minimal di daerahnya masing-masing. Selain tujuan dari pada mencerdaskan kehidupan bangsa, menurut penulis sekolah tersebut bukan sekolah favorit tapi sekolah yang gagal dalam mengembang amanah konstitusi.

Yang kemudian menjadi menarik setelah penerapan sistem ini, hampir diberbagai daerah Indonesia merespon dengan sangat membabi buta. Ada yang merespon tanpa memahami regulasinya, ada juga yang memahami regulasi tapi menyimpang dalam hal teknisi. Hal ini kemudian menurut penulis membentuk rupa atau wajah dari kebijakan sistem zonasi. Semakin masyarakat paham regulasi dan mengikuti teknisinya dengan baik maka semakin baik pula wajah yang terbentuk untuk menggambarkan sistem ini.

Reaksi masyarakatpun juga beragam, ada yang mengatakan sistem zonasi tidak adil, sistem zonasi menurunkan motivasi belajar anak, sistem zonasi membatasi hak memilih sekolah,  sistem zonasi tidak akurat dalam menentukan zona radius dan terjadi banyak kecurangan pada saat proses PPDB.

Sekarang pertanyaannya adalah apa yang membuat masyarakat mengatakan itu semua  ? dari sisi mana masyarakat menilai bahwa sistem ini tidak adil  ? dengan dasar apa masyarakat menilai bahwa sistem ini membuat pendidikan Indonesia semakin gaduh  ? saya kira semua harus jelas, jangan sampai kita mengambil kesimpulan tertentu tanpa dasar yang kuat. Karena menurut penulis bukan sistem yang membuat gaduh tapi respon masyarakat yang kurang baik terhadap penerapaan kebijakan ini. Dengan kata lain, masyarakat sendirilah yang berbuat gaduh dan curang karena masyarakat yang mengelabui sistem. Andai kata, masyarakat memilih bersabar dan memberikan waktu bagi pemerintah melalui menteri pendidikan untuk mengevaluasi segala hal terkait kebijakan ini maka tentu keadaanya tidak sampai pada tingkatan serumit sekarang. 

Penulis yakin bahwa kita memahami tujuan penerapan sistem zonasi tapi kenapa kita tidak yakin bahwa tujuan itu bisa tercapai dengan bersinerginya pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. 

Muhadjr Effendy selaku menteri pendidikan mengatakan bahwa sistem zonasi PPDB diterapkan untuk mengoreksi dan mengejar ketimpangan secara radikal dan menyeluruh. Dan sekarang sudah terlihat dengan jelas dan terbukti, dengan munculnya masalah dan keluhan-keluhan berbagai pihak mengindikasikan bahwa selama ini baik dari pihak sekolah, pemerintah daerah dan masyarakat tidak menyadari bahwa pendidikan di daerahnya masih banyak yang perlu di evaluasi. 

Jika wakil ketua komisi X DPR mengatakan bahwa Indonesia belum siap menerapkan sistem zonasi karena fasilitas dan sebaran guru belum merata maka penulis mengatakan jika menunggu fasilitas dan sebaran guru merata untuk apa lagi pemerintah menerapkan sistem zonasi  ?

Solusi terbaik yang penulis tawarkan saat ini adalah bagaimana kebijakan ini terus di evaluasi secara keseluruhan dan juga memberi keleluasaan daerah untuk menyusaikan diri terhadap kebijakan tersebut. Karena yang kita kenal selama ini adalah Indonesia yang beragam bukan seragam, maka tentu setiap daerah memiliki kebutuhan dan kondisi yang tidak sama. Walaupun pada akhirnya masyarakat masih tidak puas dengan kebijakan ini, seharusnya sebagai masyarakat yang baik kita hadir sebagai mitra pemerintah. Mari salurkan gagasan dan solusi terbaik kita demi kemajuan kita bersama.

Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin mengatakan bahwa pendidikan itu soal kesempatan belajar, bukan soal kesempatan bersekolah. Tempat belajar terbaik seringkali bukan di sekolah, tapi di rumah dan di masyarakat. Banyak sekolah hanya tempat guru mengajar tapi bukan tempat murid belajar. Sekarang kita memang semakin bersekolah dibanding orang tua kita dahulu, tapi tampaknya makin tidak terdidik. Pemerintah paham bahwa masyarakat ingin anaknya bersekolah dengan baik dan pemerintah mendukung keinginan itu. Penulis yakin bahwa pemerintah dan masyarakat mempunyai tujuan yang seragam, hanya saja untuk mencapai tujuan itu kedua belah pihak menempuhnya dengan cara yang berbeda.

Minggu, 23 Juni 2019

Manusia & Media Sosial

Lokasi Pelataran Phinisi UNM 

Suatu tema yang menarik menurut penulis dalam postingan kali ini. Hal subtansial yang penulis hendak sampaikan adalah bagaimana korelasi antara manusia dengan teknologi. Yang dimaksud teknologi dalam hal ini adalah media sosial.

Media sosial merupakan salah satu alternatif komunikasi modern yang sedang menjamur saat ini. Hampir setiap keseharian kita tidak pernah terlepas dari media sosial. Hal ini nampaknya juga dirasakan oleh penulis sendiri. Penulis kemudian menganggap bahwa kehadiran media sosial adalah candu bagi manusia modern saat ini.

Menurut hasil penelitian salah satu perusahaan teknologi Amerika pada tahun 2018, Indonesia adalah negara ketiga terbesar yang penduduknya menggunakan media sosial dibawah Filipina dan Brazil. Ada sebanyak 130 juta masyarakat indonesia menjadi pengguna aktif media sosial. Penulis kemudian tertarik untuk mengetahui mengapa kita begitu candunya terhadap media sosial. Apa yang ditawarkan media sosial kepada manusia  ? apa yang kemudian membuat kita candu terhadapnya ?

Dengan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian begitu pesatnya, disadari atau tidak disadari kehadiran teknologi dan media sosial telah mengubah cara berinteraksi manusia secara cepat dan fundamental. Kecangihan teknologi dan media sosial menawarkan beragam kemudahan interaksi bagi penggunanya terutama dalam hal ketepatan, kecepatan, keefisienan dan lain sebagainya.  Penulis menganalogikan penggunaan media sosial sebagai obat yang dalam penggunaan sudah mencapai titik over sehingga tentu akan menimbulkan efek samping yang dapat berakibat fatal dan serius terhadap manusia. Iya, hal yang sama berlaku pada kita sebagai  penggunaan media sosial yang tidak terkontrol lagi. Hal ini kemudian membuat kita candu dan seakan akan tidak bisa lepas dari media sosial.

Dari hasil penelitian lainnya, sebanyak 8 dari 10 orang hampir menggunakan seluruh media sosial yang populer seperti Whatsapp, Facebook, Twitter, Youtube dan Instagram. Uniknya hal itu didasari bahwa hampir seluruh kebutuhan manusia memang sudah dapat dipenuhi hanya dengan menekan sebuah tombol pada ponsel yang ada disaku kita. Iya, hampir semua aktivitas manusia bisa dilakukan melalui media sosial seperti membeli makanan, belanja, komunikasi atau hanya sekedar stalking informasi. Parahnya,  dengan pemenuhan kebutuhan serba instan tersebut yang kemudian menurut penulis dapat membuat manusia semakin terasing dan lambat laun akan mengalami krisis identitas. Hal ini dikarenakan manusia akan lebih memilih berkomunikasi di dunia maya dari pada bertemu langsung di dunia nyata.

Fakta lainnya sebagai musabab dari ketergantungan manusia terhadap media sosial adalah membuka pola aksi tindak kriminal yang berbasis digital. Dengan menekan tombol di komputer atau ponsel saja sudah dapat memakan korban. Iya, sudah begitu beragam kasus kejahatan akibat dari pada penggunaan media sosial secara berlebihan dan tidak bijak. Maraknya perselingkuhan, penipuan dan kasus pemerkosaan yang terkadang berujung pada pembunuhan menjadi contoh kasus terbanyak akibat dari penggunaan media sosial yang tidak bijak.

Penulis kemudian menginterpretasikan bahwa umumnya manusia menggunakan media sosial untuk memperoleh alternatif agar dapat memujudkan aktualiasi dirinya sebagai makhluk sosial. Aktualisasi diri yang dimaksud penulis adalah bagaimana manusia memperoleh suatu kepuasan terhadap prestasi atau pencapaian dirinya agar diketahui oleh orang banyak. Menariknya, kita sebagai pengguna media sosial akan lebih senang terhadap siapa yang telah melihat update seperti misalnya status atau story serta tayangan langsung yang terdapat di beberapa aplikasi. Kita akan bolak balik melihat siapa saja yang telah menyaksikan update kita untuk sekedar tahu dan mendapatkan kebanggaan atas pencapaian yang didapat misalnya melalui tombol like atau cinta. Faktanya lainnya adalah kita tidak dapat melewati 3 detik tanpa melihat gadget yang dipegang bahkan ada beberapa yang selalu mengenggam ponselnya untuk mengantisipasi adanya getaran notifikasi yang muncul. Wah, Saking candunya kita terhadap media sosial bukan. 

Eksistensi di media sosial begitu penting bagi masyarakat saat ini. Manusia berlomba lomba mengunggah apa yang ingin mereka tampilkan ke khalayak umum. Mirisnya, media sosial bahkan telah menjadi panggung sandiwara. Tidak jarang kehidupan di media sosial sangat bertolak belakang dengan kehidupan aslinya. Dengan mempostingnya melalu media sosial, manusia dapat memperoleh kepuasan tersendiri. Melalui media sosial, manusia berharap mendapatkan pengakuan diri terhadap pencapaiannya. Ada juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan dirinya bahkan sampai pada hal hal yang tak lazim seperti menjual tubuhnya melalui perantara media sosial. Hal hal demikian yang kemudian menurut penulis membuat kita candu terhadap media sosial. Saking candunya, menurut sebuah penelitian masyarakat Indonesia rata rata menghabiskan 3 jam 23 menit perhari untuk mengakses media sosial dengan rata rata memeriksa ponselnya sebanyak 157 kali dalam sehari. Bahkan saat kita bangun tidur,  kita buka media sosial. Saat makan, buka media sosial, sampai menjelang tidur, kita masih sibuk bermain media sosial. 

Diluar dari semua itu, teknologi pada hakikatnya diharapkan dapat  bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun tidak bisa dipungkiri dibalik banyaknya manfaat teknologi dapat pula menjadi boomerang bagi penggunanya. Kemungkinan terburuknya adalah bukan manusia yang mengusai teknologi tapi teknologilah yang menguasai manusia. Bukan tidak mungkin, belenggu penjajahan dan perbudakan yang dimotori oleh teknologi akan mengikat manusia. Hanya saja bentuk penjajahan dan perbudakan itu tidak lagi berbentuk fisik tetapi berpengaruh kuat dalam pembentukan mental dan kondisi psikis manusia. Sehingga pada akhirnya, manusia tidak lagi hidup sebagaimana manusia sebagai makhluk sosial tetapi sebaliknya, teknologi akan mengutuk kita menjadi manusia sebagai makhluk media sosial. 

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengutip pesan moral dari salah satu pendiri pendamping facebook Justin Rosenstein yang mengatakan “Hidup manusia terbatas dan fana, jika kita tidak gigih melawannya, maka komputer dan perangkat mobile bakal merenggut perhatian kita sepanjang hari”.

Mari untuk menolak menjadi budak dengan menggunakan media sosial dengan cerdas dan sewajarnya.

Kamis, 20 Juni 2019

MASIH PERLUKAH KITA SEKOLAH ?

Lokasi Balla Lompoa Galesong

Tulisan ini dibuat berdasarkan dari serangkaian peristiwa lapangan yang dialami oleh penulis. Penulis sering kali dipertemukan dengan pertanyaan yang hampir sama. Masih Pentingkah Kita Sekolah ? Seberapa pentingkah kita sekolah ? apakah esensi pendidikan dahulu sama dengan esensi pendidikan saat ini ? atau saat ini sudah terjadi pergeseran nilai nilai dari pada berpendidikan itu sendiri ?
Mengawali tulisan ini, untuk menilai apakah sekolah masih penting atau tidak penulis menggunakan 2 paradigma yang berbeda terhadap hakikat atau esensi dari pendidikan itu sendiri. Hakikat atau esensi yang dimaksud penulis adalah nilai subtansial dari pendidikan.

Dahulu Paradigma seseorang dalam memandang sekolah adalah hal yang mulia dalam masyarakat. Bahwa berpendidikan pada masa itu adalah hal yang berharga bagi mereka. Mereka menganggap bahwa hanya orang-orang yang berstatus sosial tinggilah yang mampu berpendidikan. Mereka yang berpendidikan adalah mereka yang unggul dari kepintaran dan finansial. Sebaliknya, pada masa sekarang nampaknya esensi dari pada pendidikan itu sudah mulai bergeser. Hal ini berdasarkan perspektif masyarakat terhadap esensi pendidikan yang mereka rasakan baik pada dirinya sendiri maupun pada kondisi lingkungan dimana mereka tinggal. 

Masyarakat saat ini memandang bahwa segala sesuatu yang ditawarkan oleh pendidikan sudah dapat mereka raih tanpa harus menempuh atau melalui pendidikan itu. Misalnya saja dalam hal profesi atau pekerjaan. Dahulu masyarakat beranggapan bahwa untuk memperoleh suatu pekerjaan tertentu harus melalui pendidikan. Apakah sekarang ini untuk memperoleh pekerjaan atau profesi tertentu juga harus terlebih dahulu menempuh jalur pendidikan atau bersekolah ? masyarakat menganggap tanpa bersekolah kita sudah dapat memperoleh pekerjaan yang kita mau. Masyarakat saat ini lebih mengutamakan keahlian mereka dan fokus untuk mengembangkan keahlian tersebut. Karena menurut masyarakat, sekolah  hanya sebatas simbol formalitas semata, tidak lebih dari itu. Disisi lain, informasi dan ilmu pengetahuan semakin mudah untuk didapat serta diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan hal-hal yang pada umumnya diajarkan di sekolah, kini masyarakat bisa mengaksesnya tanpa harus bersekolah. Lantas apa yang membedakan mereka yang tidak bersekolah dengan yang bersekolah  ? apalagi tidak ada jaminan bahwa yang sekolah lebih mengusai pengetahuan dari pada mereka yang tidak bersekolah.

Sekarang penulis akan membawa para pembaca pada paradigma berpikir para pemulung yang penulis temui di Tempat Pembuangan sampah Makassar beberapa hari yang lalu. Uniknya, masyarakat sekitar lokasi tersebut beranggapan bahwa sekolah tidak penting lagi bagi mereka, bukan berarti karena mereka tidak mampu untuk bersekolah tapi mereka sudah dapat memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus bersekolah. Mereka mamandang bahwa sekolah tidak menjamin kita untuk bekerja. Lain hal dengan menjadi pemulung,  mereka dapat memperoleh uang dan kebutuhannya. Mereka tentu lebih memilih menjadi pemulung karena tidak ada jaminan pekerjaan saat mereka memilih untuk bersekolah. Tentu kita berpikir bahwa logika pemulung tidaklah salah. Terlebih sekarang ini, kita mengkonstruk alam bawa sadar diri sendiri bahwa tujuan bersekolah atau pendidikan semata-mata untuk memperoleh pekerjaan. Iya, tujuan kita untuk menempuh jalur pendidikan saat ini tidak lain agar mendapat atau memperoleh pekerjaan. Lalu mengapa kita masih memilih untuk bersekolah atau berpendidikan  ? padahal jaminan untuk mendapatkan pekerjaan sama sekali tidak ada bukan. 

Tidak dapat dimunafikkan, bahwa pendidikan yang kita tempuh hari ini adalah semata mata sebagai tanda simbolis bahwa kita pernah berpendidikan. Maka penulis menganggap bahwa ijasah yang kita dapatkan diberbagai jenjang pendidikan hanya sebatas simbolis bahwa kita pernah  bersekolah. Dengan demikian yang membedakan kita dengan pemulung adalah ijasah. Namun dalam hal pekerjaan pemulung lebih mampu memanfaatkan waktunya untuk memenuhi kebutuhannya dibanding kita yang menggunakan waktu untuk duduk dibangku pendidikan yang tidak jelas akhirnya.
Lalu dimana hakikat atau esensi pendidikan saat ini  ? untuk apa kita berpendidikan ? untuk apa kita bersekolah ? Sedangkan perusahaan atau lapangan kerja yang tersedia membutuhkan kemampuan kerja bukan deretan numerik yang tertera pada ijazah kita. Apakah masih perlu kita berpendidikan  ?

Mengapa  demikian ?  Karena pendidikan sudah tak lagi menarik dan menjanjikan. Ada banyak hal yang membuatnya tak menarik lagi. Dimulai dari sistem, metode dan instrumen pendidikan tidak lagi berangkat dari asas mencerdaskan kehidupan bangsa.  Bersekolah tak lagi menarik sebab apa yang diajarkan tak lagi relevan dengan kebutuhan si anak. Bersekolah juga tak menarik dikarenakan rendahnya kompetensi dan tidak profesionalnya guru cendrung membuat kita jenuh. Malah kini marwah-nya pendidikan menjadi buruk. Tujuan pendidikan yang memanusiakan manusia seperti yang dikatakan oleh Soyitno, pendidikan saat ini malah menjadi membinatangkan manusia. Mengapa demikian ? karena saat ini begitu banyak ragam kelakuan dimana orang yang notabenenya berpendidikan tapi tak menunjukkan perilaku yang semestinya. Kalau bukan murid yang memukuli gurunya begitupun sebaliknya, guru yang memukuli muridnya. Bahkan banyak yang bertindak jauh lebih tak lazim dari sekedar perilaku binatang, seperti memperkosa, pelecehan dan lain sebagainya. Lantas dimana hakikat atau esensi orang yang berpendidikan  ? apa bedanya kita dengan orang tak berpendidikan ? apa bedanya kita dengan hewan yang tak mengenal pendidikan  ? Hakikat pendidikan atau bersekolah yang bertujuan membentuk insan yang memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara guna menuju kesempurnaan hidup seperti yang tercantum pada UU NO. 20 THN 2003 Tentang Sistem Pendidikan  Nasional Pasal 1 ayat 1, kini tak lagi dapat terwujudkan. 

Semoga segala pihak yang terlibat dalam sistem dan ruang civitas pendidikan dapat menghadirkan kembali marwah esensi pendidikan kita yang sesungguhnya, sehingga apa yang menjadi cita-cita bumi nusantara ini dapat diwujudkan untuk mencapai negara yang makmur, maju dan sejahtera dikemudian hari. 

Terakhir, penulis kemudian mengutip konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional 
“ Ing Ngarsa Sung Tulada (dengan pendidikan diharapkan mampu menjadi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (dengan pendidikan diharapkan mampu menjaga keseimbangan) dan Tut wuri Handayani (  dan dengan pendidikan diharapkan Mampu mendorong serta memotivasi peserta didik). Yang terpenting sekarang adalah bagaimana seluruh elemen lapisan  masyarakat dapat menyelaraskan tujuan dan langkahnya agar pendidikan tidak melahirkan aktor kejahatan, menganggu keseimbangan masyarakat dan yang utama jangan sampai pendidikan menjadi obat bius runtuhnya karakter dan prestasi anak bangsa.

Minggu, 16 Juni 2019

SURAT TERBUKA UNTUK KADES PATIMPENG BONE

Lokasi Persawahan Bone Kahu 

Assalamu'alaikum wr.wb
Yang terhormat Kepala Desa Patimpeng
Di tempat

Dengan segala kerendahan hati, melalui surat ini ijinkan kami untuk menyampaikan beberapa hal yang menurut kami penting untuk sesegera mungkin bapak ketahui. Bahwa kemarin kami mengunjungi desa bapak tepatnya Dusun Calangka Kecamatan Patimpeng Kabupaten Bone dalam rangka kegiatan ekspedisi sekolah pelosok yang merupakan inisiatif mulia dari teman-teman untuk berbagi dan menyapa generasi-genarasi muda yang saat ini berjuang menuntut pendidikan di daerah pedalaman Bone. 

Kami tiba di lokasi Madrasah Ibtidaiyah Darussalam (sekolah pelosok yang kami kunjungi) pada hari sabtu pagi kemarin. kami disambut dengan begitu ramah oleh 2 orang tenaga pengajar saat itu. Terlihat juga puluhan siswa(i) yang menyambut kamI dengan begitu gembira. Mungkin baru kali ini ada orang yang mengunjugi dan menyapa mereka, pikir kami saat itu. Kami datang pada saat mereka mengerjakan soal ujian, sesekali kami memandangi kondisi sekolah yang begitu memprihatinkan. Terdapat 20 siswa (i) pada saat itu yang dibagi menjadi 3 kelas berbeda. Kondisi bangunan yang sudah begitu rapuh, bahkan ada atap ruang kelas yang sudah bolong sehingga saat hujan turun siswa(i) harus belajar dalam kondisi basah atau terpaksa diliburkan serta sangat minimnya sarana prasarana yang menurut pengamatan kami tidak layak lagi untuk digunakan. Media pembelajaranpun sangat minim, papan tulis yang masih menggunakan kapur dan juga sangat terbatasnya buku pelajaran baik untuk siswa maupun pegangan untuk guru. 

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari masyarakat, sekolah ini berdiri pada tahun 2007 yang awal mula pembangunannya berasal dari sumbangan sukarela dari masyarakat setempat. Karena jarak dari sekolah yang berada di pusat desa yang jauh dari pemukiman masyarakat dusun sehingga masyarakat bergotong royong untuk membangun sekolah ini. Demikian pula dari segi tenaga pengajar, 2 tenaga pengajar di sekolah ini masih berstatus honorer dan masing-masing berijazah S1. Ada yang honorer selama 12 tahun lebih dan yang satunya lagi selama 9 tahun. Mereka hanya mendapat upah mengajar 900/3 bulan. Mereka sudah berkeluarga dan jarak antara rumah mereka cukup jauh dari lokasi pengabdian. Parahnya kondisi dinding sekolah yang sudah sangat rapuh dan alas sekolah yang masih beralaskan tanah, sesekali siswa(i) berdampingan belajar bersama ternak warga yang tiba tiba mengelinab masuk ke ruang kelas.

Yang kemudian menjadi pertanyaan kami adalah mengapa dan dimana peran desa dalam hal ini, mengapa sekolah ini belum pernah di renovasi setelah 12 tahun telah berdiri. Apakah kita sudah dibutakan oleh jabatan ? atau mungkin kita terlalu fokus mengejar ambisi untuk berkuasa. Bapak kepala desa yang kami hormati, kami memahami bahwa sekolah adalah pondasi pendidikan formal bagi generasi muda, apakah pihak desa tidak memahami hal demikian ?

Beberapa masyarakat bercerita ke kami, pihak desa enggang memperbaiki sekolah itu karena tidak dibawah naungan dari desa, karena baru tahun kemarin sekolah tersebut dipindahkan ke Desa Patimpeng. Tapi menurut pemahaman kami, jika itu alasan pihak desa tidak merenovasi sekolah itu maka kami menganggap itu sebagai alasan yang amat keliru. Mengapa tidak, sependek pengetahuan kami segala sesuatu yang berada dalam wilayah desa maka termasuk aset desa. Walaupun kemudian desa tidak dalam tanda kutip tidak mengakui sekolah tersebut sebagai aset desa, namun segala sesuatu yang berada dalam lingkup wilayah desa adalah tanggung jawab desa. Apalagi hal ini sudah menyentuh persoalan kemanusiaan menurut kami. Kehadiran sekolah-sekolah yang layak seharusnya dapat  memanusiakan manusia, membentuk generasi intektual, bermoral dan patuh terhadap ajaran agamanya.  Apakah pihak desa tidak menginginkan masyarakat desa yang demikian ? lalu siapa yang kemudian kelak menggantikan para perangkat desa kalau bukan generasi yang ada saat ini ? 

Ingat, bahwa bapak hari ini tidak dapat menduduki posisi itu tanpa sebelumnya melalui jenjang pendidikan. Lalu mengapa kita seolah olah buta akan hal itu ?

Demikian surat terbuka ini kami tulis dengan maksud memberikan kritikan yang membangun dengan harapan kedepannya pihak desa menjadikan surat ini sebagai bahan evaluasi dalam menjalankan kinerjanya. Semoga dengan surat ini pemerintah desa dapat lebih memperhatikan aspek pendidikan yang ada di wilayah Dusun Calangka Desa Patimpeng Bone.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.




Hormat Kami
Tim Ekspedisi Sekolah Pelosok

Jumat, 14 Juni 2019

Menakar Pendidikan Indonesia

Foto Latar Sekolah Laskar Pelangi Maros 
Ada hal yang menarik dan menggelitik ketika kita berbicara tentang pendidikan di Indonesia. Yang menarik adalah banyak diantara kita yang menempuh pendidikan dengan harapan mendapat pekerjaan formal dan yang menggelitik adalah sebagian besar harapan itu tidak terwujud. 

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik ) tahun 2018 kemarin, jumlah sarjana pengangguran Indonesia mencapai angka 660 ribu orang. Sungguh begitu banyak harapan yang terkecewakan bukan.  Tentu banyak hal yang menjadi musababnya, diantaranya kurangnya soft dan hard skill pelajar kita, sampai pada titik minimnya lapangan kerja di negeri tercinta. Namun pada kesempatan kali ini, penulis akan banyak bermain pada kata takaran atau sejauh mana pendidikan Indonesia melangkahkan pijakannya di era posmodern saat ini dari perspektif kacamata penulis. 

Penulis mamaknai kata ‘menakar’ sebagai wadah ukur untuk meramalkan keberhasilan pendidikan. Tentu dalam menakar sesuatu dibutuhkan tempat sebagai wadah dan bahan untuk mengisi wadah. Setiap wadah memiliki batasan volume maksimal dan setiap bahan beragam bentuk rupanya. Sekarang penulis menganalogikan sistem pendidikan Indonesia sebagai wadah dan aturan satuan pendidikannya sebagai bahan. Dalam hal ini, setiap sekolah atau perguruan tinggi adalah wadah dan aturan pendidikannya adalah bahan.
Dalam jenjang Sekolah Dasar penerapan sistem pendidikan KTSP yang kemudian tergantikan dengan Kurikulum 2013 dan tingkat jenjang pendidikan tinggi dengan simpul aturan pendidikan tinggi yang semuanya menurut penulis tidak cocok diterapkan di bumi Indonesia ini. Manusia Indonesia begitu beragam dengan warna karakter yang tak kalah indah dengan pelangi. Dengan keragaman itu yang kemudian memicu ketidaknyamanan dan ketidakmampuan beradaptasi dengan aturan yang kian tidak jelas relevansinya. Ketika seorang pelajar Sekolah Dasar dipaksakan untuk mempelajari sesuatu yang notabenenya ia tidak sukai, disisi lain aturan pendidikan yang memaksakan hal itu untuk para pelajarnya. Aturan pendidikan layaknya sebuah obat yang kemudian memicu kejenuhan pelajar dalam menjalani hari hari pendidikan formalnya, lebih parahnya lagi obat itu dipaksa untuk ditelan oleh para pelajar kita. Demikian pula para mahasiswa di perguruan tingginya masing-masing yang tak kalah corak ragamnya dari pelajar dasar tadi. Semangat yang berapi api dari pemuda bujang yang kian hari kian besar seolah-olah aturan atau tuntutan penyelesain SKS studi dikampus menjadi air yang memadamkan semangat mereka. Bagaimana tidak, penerapan aturan studi seolah olah membunuh daya kreativitas mahasiswa, kita dipaksa untuk belajar dan paham terhadap hal yang tidak kita sukai. Lantas, apakah ini tergolong hal yang baik  ?
Sudah teramat jelas bahwa sistem pendidikan Indonesia pada saat ini sudah melenceng dari pepatah para pegiat motivasi di negeri kita sendiri yang mengatakan “Kerjakan apa yang kamu cintai, cintai apa yang kamu kerjakan”. Sehingga hasilnya apa, segala sesuatu yang diikat dan begitu dipaksakan akan berujung pada hasil yang tak diharapkan. Dengan banyaknya jumlah SKS atau mapel yang harus kita pahami justru akan membuat kita bingung dan berakibat pada tidak maksimalnya outpun pendidikn Indonesia, yang kemudian berimbas pada banyaknya pelajar atau sarjana yang tidak mendapatkan jati dirinya, bingung dalam menentukan tujuannya dan lebih parahnya lagi mereka menganggap bahwa pendidikan formal tak lagi dibutuhkan dalam mendapat dan memenuhi kebutuhan mereka saat ini. Jika sistem dan aturan pendidikan tetap saja seperti saat ini maka penulis pesimis pendidikan Indonesia akan stagnan & tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Ibarat ember sebagai wadah pendidikan Indonesia hari ini, ember itu terus menerus di isi air, tanpa tahu untuk apa ember itu di isi & untuk apa isi ember itu. 

Sebagai hiasan penutup, penulis ingin mengatakan bahwa seharusnya pemerintah melalui mentri pendidikan lebih jelih dalam melihat kondisi generasi Indonesia saat ini. Sistem pendidikan dan penerapannya harus selalu disesuaikan dengan kondisi penerus bangsa ini. Sistem pendidikan jangan sampai menjadi belenggu bagi para pencari ilmu. Demikian pula, orientasi pendidikan harus jelas, apakah pendidikan untuk melahirkan kaum kaum pekerja atau untuk mencetak kaum cendikiawan yang dapat berperan penting dalam memajukan bangsa ini di kemudian hari.

Rabu, 12 Juni 2019

Pelajaran Hidup dari Paman

Foto keadaan terakhir paman sebelum berpulang
Jauh-jauh hari setelah mendengar kabar beliau sedang jatuh sakit, dalam hati terbesit niat untuk segera menjenguk. Entah apa yang membawa ku untuk bertemu beliau.

Aku mengenal putrinya di media sosial. Melalui grup whatsapp yang kami buat untuk kawan kawan mahasiswa sedaerah, kita kemudian berkenalan. Beberapa hari setelah itu, kami sepakat bertemu di alun alun kota barru untuk membicarakan beberapa hal terkait kepemudaan. Putrinya nampak begitu periang dan menarik dijadikan sebagai kawan diskusi. Setelah pertemuan itu, kita lebih sering komunikasi lewat medsos ketimbang bertemu. Jauh sebelumnya, bapak beliau sudah dirawat di salah satu rumah sakit umum kota Pare-Pare. Kemudian paman dirujuk ke rumah sakit umum makassar 3 minggu yang lalu.  

2 hari yang lalu, kita dipertemukan kembali dengan suasana yang begitu berbeda. Ini pertemuan yang kedua namun pertemuan pertama kalinya bersama orang tuanya. Terlihat raut wajah yang begitu jauh dari kesan riang yang selalu dia nampakkan selama ini. Ibunya yg ku sapa berdiri setia mendampingi paman yang terbaring lemah diatas pembaringannya. Paman menderita penyakit paru paru juga terdapat benjolan keras dihulu hatinya. Sebelumnya paman divonis menderita TBC namun sudah dikatakan sembuh total sebelum kedatangan ku.

Ini kesan pertama kali saya bertemu dengan orang tua putri periang itu. Terlebih dengan kedua orang tua nya, sebelumnya kita tak pernah bersua dan saling kenal mengenal. Saat ku sambangi paman, beliau menguatkan diri untuk menyambut tamu nya dengan begitu arif. Paman menyambut kami dengan duduk manis dengan senyum selamat datang. Paman menatap kami bagai anak kandungnya sendiri. sesekali ia melempar senyum. Kami mengatakan “lekas sembuh pak, bagaimana keadaan bapak sekarang”. Sesekali saya mencandai beliau dengan ucapan “anak muda harus kuat pak” kemudian beliau tersenyum dengan mengangkat satu tangan jempolnya. Tak lama paman duduk dan menyapa tamunya, beliau meminta untuk dibaringkan kembali. Saya sadar betul beliau selalu memandang cairan impusnya yang setia menemaninya selama di rumah sakit. Sarapan paman adalah bubur yang disediakan oleh dokter. Malam itu pula, paman meminta teh yang merupakan pantangan untuknya. Kata putrinya, paman juga suka menonton film tinju, sambil terbaring paman terlihat begitu menikmati tontonannya.

Setelah kami merasa cukup untuk bertemu paman, kami kemudian pamit. Putrinya yang begitu baik mengiringiku sampai depan pintu keluar ruang rawat paman.

Keesokan malam harinya, ba’da isya saya menerima kabar putrinya bahwa paman membutuhkan bantuan darah segera. Teman teman kemudian segera membantu untuk mendpatkan info dan pendonor yang siap malam itu. Berselang beberapa menit , kami putus kontak dengan putrinya. Hal buruk[un seketika meracuni pikiran. Dan benar, setelah beberapa menit kemudian, tiba tiba deringan telfon dari putri terdengar dengan isak tangis yang mendalam. Keadaan pecah saat mendegar kabar itu, “akbar bapak meninggal”. Ya Allah, aku berpikir ini semua adalah murni salahku. Entah itu karena aku tidak sigap untuk mencarikan darah yang paman butuhkan dan juga aku memilih pamit malam itu dan tidak menemaninya. Sungguh penyesalan yang mendalam meninggalkan paman waktu itu. 
Malam itu saya dikampus dan segara ke rumah sakit bersama teman ku. 
Tagis harupun pecah saat saya memasuki ruang dimana paman dirawat. Terlihat seorang wanita tua yakni istri paman yang tampak murun dengan air mata yang perlahan habis dan mengering. Ibu memelukku dengan sangat dalam dan menyentuh. Aku turut dalam duka mendalam itu. Ku sentuh raga paman yang sudah terbaring suri. Ku pandangi wajah beliau yang begitu pucat. Kemudian putrinya datang menghampiriku dengan mukenahnya yang anggun. Putrinya kembali mengatakan “bapak sudah tiada”. Kami duduk berdampingan dengan duka yang sama. Sementara ibu yang begitu setia duduk disamping paman yang dikasihinya. Putrinya mengatakan bahwa setelah saya pamit , katanya paman mencari saya  paman berkata “kemana teman mu, kenapa cepat pulang”. Hal ini yang membuat saya samakin menyesal pamit malam itu. 

Diluar dari semua itu, saya yakin bahwa tuhan adalah perencana terbaik. Tuhan menambahkan umur paman sampai saya bertemu beliau. Tuhan maha baik memberi saya begitu banyak pelajaran saat bertemu paman.  
“Hidup tidak selamanya tentang bahagia, dikala kita tertimpa musibah, menyerah bukan satu satunya pilihan untuk tetap bersama orang tercinta. Berjuanglah meski tak ada jaminan takdir untuk kita sebagai hambanya” 

Beliau meninggal pada saat seorang pria selesai membacakannya ayat suci Al Quran dan sementara putrinya sedang dalam keadaan shalat. Semoga beliau diberikan tempat terbaik disisinya dan segala amal perbuatan baik dan segala kesalahan beliau diterima dan diampuni oleh Allah yang maha pengampung dan penyayang.

Terima kasih paman, engkau pahlawan keluarga kecil kami.