Rabu, 28 Agustus 2019

PERLUKAH KITA MELANGGENGKAN BUDAYA SENIORITAS ?

Fakultas Ilmu Sosial 
Selamat datang mahasiswa baru. Kini status siswa berubah menjadi mahasiswa yang digadang gadang adalah tanggung jawab besar. Seperti pepatah, semakin tinggi suatu pohon maka semakin kencang ia diterpa angin. Menjadi mahasiswa tidak ada jaminan untuk sukses dan bahagia. Sebab sukses bukan tentang siapa yang lebih dulu selesai tetapi seberapa ia mampu mengaplikasikan disiplin ilmunya untuk kebaikan manusia dan dirinya karena sebaik baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama bukan mereka yang lulus cepat dengan predikat Cum Laude.

Diakui atau tidak diakui. Rasa deg degan atau was was akan kalian rasakan sebagai mahasiswa baru. Terlebih bagi mereka yang kuliah jauh dari keluarga. Mengingat musim mahasiswa baru, penulis tertarik untuk sedikit banyak memberikan pandangannya tentang budaya senioritas yang sampai sekarang masih membumikan dirinya dan terkadang menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa baru. Dikatakan budaya karena istilah senioritas lahir dari proses yang panjang lalu kemudian menghadirkan dirinya pada labirin pendidikan Indonesia.

Pertanyaan mendasar sesuai tema yang diangkat oleh penulis adalah perlukah kita melanggengkan budaya senioritas  ? Pro dan kontra menjadi sesuatu yang wajar adanya. Ada yang beranggapan bahwa senioritas mampu membuat junior agar lebih mudah mengakses informasi serta beradaptasi dengan iklim kampus. Ada juga yang mengatakan penerapan senioritas supaya terciptanya keseimbangan dalam sebuah kelompok. Ada juga yang mengatakan dengan adanya senioritas maka justru membuka ruang bagi senior untuk menindas dan memperlakukan junior seenaknya bahkan Senioritas menjadi ajang untuk pamer kekuasaan dan kekuatan.

Sejatinya manusia adalah makhluk yang terus berevolusi. Analogi sederhananya adalah manusia merupakan makhluk yang akan terus bereproduksi atau berkembangbiak. Setiap masa ada generasinya, setiap generasi ada masanya. Maka dari itu, menurut penulis istilah junior senior adalah hal yang absolut dengan siklus perputaran yang sama. Istilah junior senior bermakna seragam dengan tua dan muda.

Dalam dunia pendidikan, senior adalah mereka yang terlebih dahulu masuk kampus. Ada juga yang menambahkan bahwa dapat dikatakan sebagai senior jika mereka memiliki pengetahuan yang mempuni dan menjadi teladan bagi yang lain. Sehingga terkadang kita menemukan ada junior yang tidak mau mengakui keberadaan seniornya karena seniornya hanya unggul dari segi umur semata.
Yang menarik  seputar stigma stigma negatif tentang senioritas. Jika mengacu pada peristiwa peristiwa fakta yang terjadi. Atas nama senioritas terjadi perilaku bullying yang dapat berujung pada hilangnnya nyawa seseorang seperti yang terjadi pada siswa Taruna Akademik Teknik Keselamatan Penerbangan (AKTP) Makassar pada bulan februari kemarin. Penulis tidak bermaksud mengeneralisasi bahwa semua senior berperilaku demikian. Senior senior yang mengatasnamakan senioritas untuk memperlakukan manusia dengan buruk penulis kemudian menyebutnya sebagai oknum senioritas. Oknum senior ini bersembunyi dibalik kata senioritas untuk menyiksa dan menyakiti juniornya tanpa rasa bersalah dan beban moral. Alasannya pun beragam. Lucunya, ada yang melakukan tindakan demikian untuk memperoleh penghormatan dari juniornya. Tentu hal ini menurut penulis adalah sesuatu yang sangat keliru. Apakah tidak cara lain agar junior dapat melakukan sesuai keinginan kita  ?. iya,  terkadang jabatan dan pangkat menjadi jalan untuk menindas yang lainnya. Kita terkadang mengaku sebagai kaum terpelajar tapi tidak mencermikan perilaku dan sikap yang terpelajar. Seharunya junior menghargai kita karena mereka bangga dengan yang kita miliki sebagai seniornya. Buatlah junior kita senang dan menghargai kita secara alami bukan dengan metode pemaksaan. Kondisi seperti ini penulis menamainya sebagai kolonialisme modern terhadap  pendidikan Indonesia. 

Hal aneh lainnya adalah oknom senior yang melakukan tindakan diluar batas wajar terhadap juniornya agar junior lebih siap mentalnya dalam menempuh kesehariannya di dunia kampus. Mereka merancang model pengkaderan sedemikian rupa. Pertanyaannya, sebenarnya mental seperti apa yang kita mau bentuk dan tanamkan pada junior kita. Mental intelektual atau mental baja untuk berperang. Masih banyak internal kampus yang menerapkan pola atau model kaderisasi yang menurut penulis buta arah dan tujuan yang justru dapat melemahkah bahkan membunuh mental para juniornya. Kebanyakan dari kita masih tetap mempertahankan pola kaderisasi yang berbau kolonialisme. Dilain hal, ada oknum senior yang menjadikan status seniornya sebagai ruang untuk ajang balas dendam. Hal ini yang menjadi turun temurun layaknya tradisi yang diturunkan pada generasi ke generasi berikutnya. Mereka yang dulunya junior, kini telah menjadi senior terdorong untuk melakukan hal yang sama pada juniornya sekarang. Tidak lengkap rasanya, kalau juniornya tidak merasakan apa yang ia rasakan dulu sewaktu menjadi junior. 

Pemikiran pemikiran seperti diatas menurut penulis adalah wujud kecacatan dalam berpikir. Bagaimana tidak,  melanggengkan dan mewariskan sesuatu yang tidak baik dan sama sekali tidak ada manfaat dan tujuannya merupakan hal terbodoh yang dilakukan para kaum intelektual di zaman sekarang. 

Sebagai penutup, penulis berpesan kepada semua senior di seluruh jenjang pendidikan Indonesia, bahwa semua orang ingin dihargai dihormati dan semacamnya. Sejauh ini, penulis menyadari bahwa ada banyak persepsi dan penilaian tentang senioritas. Budaya senioritas memang perlu tapi melanggengkan perilaku senioritas yang menindas adalah hal yang sangat memalukan bagi diri yang dituakan. Jangan melakukan sesuatu terhadap seseorang yang jika diperlakukan kepada mu kamu tidak menyukainya. Stop mewariskan kejahatan pendidikan, mari putuskan budaya senioritas yang menindas. Hidup Mahasiswa. Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi semua kalangan civitas akademik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar