Kamis, 01 Oktober 2020

EKSPEDISI PULAU TANA KEKE

 


Tana Keke merupakan salah satu kepulauan yang berada dalam administrasi wilayah Kabupaten Takalar. Sebagai Kepulauan, Tana Keke membawahi beberapa desa diantaranya Desa Tompo Tanah, Desa Danre-Danre, Kampung Bugis, Desa Balangdatu dan desa lainnya yang tidak sempat saya kunjungi.

Perjalanan dari Dermaga Takalar Lama menuju Pulau Tana Keke memakan waktu kurang lebih 50 menit dan jam 10 pagi adalah waktu yang paling lambat  menunggu kapal jika tak mau berenang ke pulau. Kapal Jolloro menjadi andalan untuk mengankut para tuan dan barang bawaannya menuju pulau.

Selain dermaga menjadi tempat bersandarnya kapal, juga menjadi tempat jual beli masyarakat sekitar. Pasar dan Dermaga menyatu dalam keramaian manusia-manusia tiap pagi hingga menjelang siang. Pasar dalam dermaga menjelma sebagai pusat kehidupan bagi manusia-manusia pesisir di seberang lautan.

Kondisi lautan yang tenang, awalnya mengusir rasa khawatir yang tadinya memuncak. Seperempat perjalanan saya lewati dengan perasaan tenang, tapi kedamaian itu sayang tak berlangsung lama, ombak besar tanpa ragu bergantian menghantam kapal nahkoda. Semenjak itu, saya tak pernah berhenti membanyangkan, bagaimana jika kapal ini ditakdirkan terbalik oleh tuhan ?

Rasa khawatir yang saya sembunyikan akhirnya membeludak saat satu dua ombak menerjang kapal tanpa merasa berdosa. Tanganku yang tadinya lemas, kini memegang badan kapal akibat goncangan yang kian hebat. Ombak besar itu terus datang dan berulang, na'asnya semakin saya khawatir ombaknya semakin menakutkan. Air yang tadinya tenang, kini melompat masuk ke kapal bagai orang yang sedang kehausan. Saya tak henti-hentinya mengharap tuhan agar kesalamatan tetap berpihak pada hamba-hambanya. Waktu itu, saya secara spontan menjadi takwa, yang tak henti-hentinya memuji tuhan karena takut mati dilautan.

Perasaan khawatir di sisa perjalanan merupakan ancaman dan rasa gelisah yang wajar dimiliki oleh manusia. Apalagi, di saat kita dalam keadaan bahaya. Kehadiran tuhan begitu amat kita butuhkan. Dalam kondisi tenang, kita malah bermalas-malasan bahkan terkadang sengaja lupa terhadap tuhan, namun mengapa dalam kondisi khawatir dan gelisah akan suatu hal, tanpa malu kita datang mengemis pertolongan kepadanya ?

Dari kejauhan, beriringan dengan tenangnya lautan, terlihat susunan rumah warga pulau, lengkap dengan bentangan botol apung rumput laut  dan jejeran perahu milik para nelayan. Kapal yang saya tumpangi akhrinya bersandar dengan sambutan warga yang ceria. Gedung Serba Guna seakan-akan sudah menunggu lama untuk bersua.

Saya bersama Ashar (kader HMI), di pandu oleh Ibrahim (warga pulau) masing-masing memikul barang bawaannya menuju rumah Ibrahim untuk istirahat. 

Tak jauh berjalan kaki, sampailah saya dirumah Ibrahim. Disana, orang tua Ibrahim menyambut kami. Nenek Ibrahimpun tak mau ketinggalan, sambil mengayung cucunya di bawah teduhnya rumah panggung. Di ruang tamu bagian tengah, telah di suguhkan hidangan makan siang oleh tuan rumah. Ada cumi-cumi dengan ukuran yang tak biasa, sekawanan kepiting, sayur dan nasi serta lengkap dengan lombok kacang tumisnya. Sangat lahap saya menyantapnya.

Sorenya, saya kembali memulai perjalanan menuju Pantai Pasir Putih yang katanya dibanjiri warga tiap akhir pekan. Saya, Ashar, Ibrahmi dan juga bersama 3 perempuan lainnya menumpangi perahu dengan ukuran sedang. Perahu ini sama dengan perahu sampan, bedanya sampan biasanya tidak memakai mesin. Panjangnya kapalnya kira-kira 4-5 meter tanpa ati' (penyeimbang) yang dimiliki perahu nelayan pada umumnya. Awal menaikinya saya dan ashar ragu, tapi Ibrahim malah senyum-senyum. Saya membayangkan jika ombak besar datang, besar kemungkinan perahu ini terbalik (pikirku). Ternyata 3 perempuan tadi ikut berlabuh bersama kami, ada Irma, Inna dan Angki, di perahu yang sekecil ini ditumpangi oleh 6 orang. Saya semakin tidak yakin.

Naiklah 6 orang di perahu tadi secara bergantian. Irma adalah yang paling gemuk di antara kami dan berhasil menguncang perahu ketika Irma naik. Supaya seimbang, Ibrahim duduk paling belakang sebagai nahkoda, Inna berdiri paling depan sebagai buruh dan 4 lainnya termasuk saya duduk dibagian tengah sebagai penumpang. 

Diperjalanan, disaat semua dalam keadaan sunyi tenang, tiba -tiba kami di kagetkan dengan sesuatu yang melompat dari air ke kapal. Seekor ikan Bandeng menyapa kami semua dan berhasil membuat kepanikan massal di perahu. Ukurannya cukup besar, katanya ikan Empang warga yang lepas. Butuh 20 menit untuk sampai ke Dermaga Desa Danre-Danre dengan pemandangan tanaman mangrove dan bekas galian di sepanjang perjalanan.

Di Desa Danre-Danre, saya menemui jejeran karung yang berisikan pasir-pasir, lululalang peliharaan teknak dari kambing hingga ayam tanpa bulu. Juga mengamati berbagai aktivitas nelayan selain dari pada melaut, ada yang berbincang-bincang, mengangkut bahan bakar dengan motor viar, semua terlihat tentram dengan kesibukannya masing-masing.

Saya dan 5 lainnya, melanjutkan perjalanan dengan menggunakan motor viar dengan membayar 5 ribu rupiah untuk rute pulang-pergi. Sepanjang perjalanan menggunakan viar, mata saya membelalak dan menjumpai beberapa pemandangan warga lokal. Saya melewati jalan setapak, dengan beragam panorama yang jarang ditemukan di perkotaan. 

Ada segerombolan anak-anak yang bermain di kebunnya, menyepak bola takraw dengan begitu riang, sedangkan anak lainnya entah bermain apa. Mereka saling kejer-mengejar, bahagia dan begitu senang. Ada juga yang sedang mengayu sepedanya dan beberapa lainnya mendorongnya. Saya melihat pesepeda ini kelelahan, sebab mereka diharuskan mengangkut air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya. Warga pulau dan desa tidak seberungtung di daerah lainnya yang dapat menikmati air bersih tanpa perlu bersusah payah. Sungguh pemandangan ini, belum pernah saya temukan di Daerah perkotaan, dimana di kota anak-anak seusia mereka, asik terbuai dan berselancar dengan gadgetnya.

Saya juga menemukan seorang ibu rumah tangga, dengan sepeda motor tuanya, ia mengangkut beberapa jergen air juga. Ia nampak maskulin dibanding ibu rumah tangga lainnya. Dengan senyuman dan keberaniannya, ibu rumah tangga ini mematahkan pandangan kuno tentang ketidakmampuan perempuan dalam beraktivitas. Ia membuktikan bahwa ia bisa mengambil peran ganda yang biasanya di dominasi oleh laki-laki. Betul-betul keadilan gender nampak membumi di desa ini.

Kami sampai di Desa Balangdatu, setelah sebelumnya melewati Kampung Bugis. Tiap melintas di kampung ini, warga begitu antusias memandangi kami. Ada yang sedang duduk sebagaimana paguyuban dan ada yang sedang membelah kelapa muda di bawah teduhnya langit. Ada juga yang sedang mengangkut rumput untuk pakan ternak, juga memanjat dan memanen buah pala untuk di ambil airnya sebagai Ballo.

Setelah itu, kami berjalan kaki menuju pasir putih yang saya incar. Langit nampaknya mulai redup dan matahari sebentar lagi beranjak pergi. Setiap rumah warga yang saya lewati, tak jarang mereka mengundang kami untuk sekedar bercerita dan mampir. Tapi waktu kami tidak banyak, 5 km saya tempuh untuk sampai pada tujuan. Saya melewati empang warga dengan berbagai jenis isinya, ada ikan dan udang. Sesampainya, sunset dan hamparan pasir putih menyambut kami, terlihat menara pemantau yang gagah menjulang tinggi. Langit yang dihiasi langit merah dan burung migrasi menambah kesejukan alam di pesisir. Tapi sayang, tak berselang lama, lampu langit perlahan padam. Suasana yang tadinya riang, seketika berubah menjadi menakutkan. Ternyata tenaga untuk jalan menuju pulang sisa sekarat.

Kami beranjak pulang, sambil gelisah, terburu-buruh sebab mengkhawirkan jalan pulang, takutnya hanya akan satu hal, ketika perjalanan yang kita tapaki dengan tenaga terbatas ternyata adalah jalan yang salah. Saya dan lainnya bergantian mengulur napas, ada yang berpura-pura tertawa, memutar musik agar suasana tidak terlalu mencekam.

Sampai pada saat adzan terdegar, kami masih di perjalanan, bahkan belum setengahnya, gelap sebentar lagi menutupi terang sepenuhnya. Bergantian, diantara kami menyalakan cahaya gadgetnya sebagai pelipur senyap di tengah kepanikan. Dan ditengah perjalanan, setelah melewati semak belukar, juga beberapa petak Empang warga, Inna mengalami nasib tak baik. Inna jatuh ke dalam lubang yang sama sekali tidak saya duga, tercebur di empang warga. Ini sontak membuat saya panik, sebab suara Inna yang begitu nyaring. Saya kira ini nasib buruk dalam perjalanan ini, tapi kesalamatan masih ditakdirkan, Inna hanya jatuh dan tidak terluka, hanya saja pakaiannya jauh dari keindahan, hitam dan penuh bau empang. Seketika suasana tegang berkamuflase menjadi gemuruh tawa.

Gelap betul-betul datang dan dengan setiap menemani kami sampai pada pemukiman. Melalui viar tadi, kami di angkut seperti barang. Jokinya nampak keserupan memainkan gas motornya. Kami kaget sekaligus legah, akhirnya kita menuju pulang dan akan ada istirahat panjang. Baru kali ini, saya menyebrangi lautan, malam hari dengan suasana dingin. Seluruh penumpang kapal lebih banyak diam dan menyunyi.

Diperjalanan pulang, silau senter membuat mata kami berkedipan secara bergantian. Aktivitas malam hari ditengah dan pesisir pantai warga bermacam-macam. Mereka ternyata juga aktif di malam hari, untuk mengamankan persoalan perut dan belanja keluarga tiap hari. Nyawa para nelayan, pemuda dan anak-anak yang seharusnya belajar dan tertidur di rumah, kini bertaruh dengan dinginnya malam dalam ketidakpastian. Selama perjalanan pulang, satu terus bergumang dalam pikiran, mereka tidak seberuntung saya.

Sesampainya di darat, perahu kami disambut orang tua Ibrahim, mereka turut senang kami kembali dengan selamat.

Setelah makan malam dengan menu serba seafood, saya bersama Ashar dan Ibrahim bersilahturahmi dengan Karangtaruna Desa Tompo Tanah. Kami bertemu di pelataran dermaga dan berdikusi hangat di tengah hempasan angin pesisir. Segalanya kami bahas, dari Histori, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, kepercayaan hingga lelucoan yang menghadirkan tawa diantara kami. Saya dan teman lainnya disambut dengan sangat baik oleh teman-teman Karangtaruna. Diskusipun tak terasa telah menelan waktu dengan begitu lahap. Akhirnya tiupan angin yang kian kencang membubarkan diskusi dengan kepala dingin.

Sepulang diskusi, saya di bisiki ibrahim, bahwa Irma mengundang saya ke rumahnya. Tak jauh dari rumah Ibrahim, tepatnya di bawah rumah Irma, sekumpulan pemuda sedang khusyu' berdiskusi, saya sengaja mendengarkannya, mereka memperdebatkan tentang kesejahteraan dan kemudian desanya. Dalam benak saya berpikir, jauh dari keramaian kota ternyata masih ada sekelompok pemuda yang peduli dengan desanya. Mereka nampakknya merencanakan sesuatu, tapi saya tidak mendengar sepenuhnya.

Kami disambut Irma dan Innah, hadir pula Angki, kaka dari Irma, salah satu pemuda dan disusul kedua orang tua tuan rumah. Suasana sangat hangat, seperti keluarga besar yang sedang merayakan pertemuan. Di meja ruang tamu, disuguhkan kue dan air panas sebagai teman diskusi yang pendiam. Kami membahas segalanya, mulai dari A hingga Z, mulai dari batu, api, air dan besi. Gelas kosong betul-betul terisi kembali dengan pengetahuan terbaharui dan baru. Setelah lama bercerita, rasa ngantuk yang tak tertahan membubarkan kami dengan mudah. Selesailah diskusinya, kembalilah kami masing-masing dengan gelas yang telah terisi.

Esoknya, saya dan Ashar kepada keluarga Ibrahim berpamitan untuk pergi. Tepatnya pada pukul 6 pagi ,bersama penumpang lainnya, berpulang kembali menuju Dermaga Takalar, tentu dengan kepentingan dan tujuan masing-masing.

Dari perjalanan ini ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi :

1. Warga Pulau Tana Keke Selalu Memakmurkan Masjidnya

Saya mendapati jamaah yang begitu bergairah mengisi shaf-shaf masjid. Salah satunya Masjid Nurul Jihat yang tidak jauh dari rumah Ibrahim. Masjid berada di tengah pemukiman, diapit bangunan SD Inpres Tompo Tanah dan Kantor Desa. Kenapai warga berbondong-bondong shalat berjamaah di masjid ? Sedangkan masjid di pedesaaan biasanya sunyi sepi. Ternyata warga pulau pernah digegerkan dengan kabar akan datangnya bencana Dukhan. Bencana Dukhan adalah asap atau kabut tebal yang akan menutupi bumi selama 40 malam yang juga menjadi salah satu penanda akan terjadinya kiamat.

2. Plt Kepala Desa sudah diganti sebanyak 4 kali

Saya mendengar ini saat berdiskusi dengan teman-teman Karangtaruna. Pelaksana Tugas (Plt) sementara terus gonta-ganti. Belum ada kepastian jelas mengenai pemilihan Kades yang baru.

3. Tidak adanya proses belajar mengajar formal

Ini terjadi pada siswa (i) Sekolah Dasar Inpres Tompo Tanah. Faktor utamanya adalah tidak adanya tenaga pengajar (guru). Selain itu, fasilitas pembelajar juga tidak memadai, terlebih jika digelar secara daring. Mayoritas peserta didik tidak memiliki gadget untuk mengakses pendidikan. Penyebab lainnya juga dikarenakan kurang terjalinnya komunikasi antara Kepala Sekolah dengan pemangku kepentingan lainnya termasuk warga. Konon katanya, tipe kepemimipinan kepala sekolah dinilai kurang baik dan lebih banyak berada diluar pulau.

4. Krisis Air Bersih

Umumnya masalah yang di alami masyarakat yang bermukim di pulau, terkhusus warga di Desa Tompo Tanah adalah krisis air bersih dan layak pakai. Dulu pemerintah setempat menyediakan penyulingan yang diperadakan untuk mengubah air asin menjadi air tawar. Namun hal ini tidak bertahan lama sehingga warga harus membeli air di Takalar yang diangkut dengan Kapal Jolloro. Harga air 4 ribu perjeregen (jergen 25liter). Air ini hanya digunakan untuk keperluan pangan saja. Saya benar-benar merasakan bagaimana cara menghemat air ketika berada di pulau. Ketika bangun tidur, saya hanya menggunakan satu gayung ukuran sedang untuk cuci muka sekalian dengan berwudhu. Satu ember kecil digunakan untuk mandi.

5. Batasan Pemakaian Listrik

Di Desa Tompo Tanah, listrik hanya dapat dinikmati pada jam tertentu. Listik mulai mengaliri rumah warga mulai jam 5 sore sampai jam 6 pagi. Setelahnya akan mati. Bahkan ada desa yang sama sekali tidak teraliri listrik di pulau Tana Keke ini.












Senin, 27 Juli 2020

Antara Kelaparan dan Kelebihan Makanan


Tulisan ringkas saya kali ini merupakan riview dari buku Homo Deus yang ditulis oleh Yuval Noah Harari bagian pengantar tentang Agenda Baru Umat Manusia. Selamat Mengeja teman-teman.

Generasi demi generasi manusia sudah berdoa kepada setiap tuhan, dewa, santa dan telah menemukan tak terhitung alat, institusi dan sistem sosial, tetapi mereka terus mati dalam jumlah jutaan akibat kelaparan, wabah dan kekerasan.

Banyak pemikir dan nabi menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah dan peperangan telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis tuhan atau karena alam kita yang memang belum sempurna dan sampai akhir duniapun kita tidak akan terbebas dari semua itu. 

Tetapi dalam beberapa dekade terakhir manusia berhasil mengatasi kelaparan, wabah dan perang meskipun belum sepenuhnya teratasi. Kita sangat tahu apa yang harus dilakukan dalam rangka mencegah kelaparan, wabah dan perang dan kita biasanya berhasil melakukannya.

Namun, ketika kelaparan, wabah dan perang melanda diluar kendali, kita merasa bahwa seseorang pasti mengacau, membentuk komisi penyelidik dan berjanji pada diri sendiri bahwa lain kali kita akan bertindak lebih baik.

Bencana-bencana seperti kelaparan memang sudah semakin sedikit dan lebih jaring. Untuk kali pertama dalam sejarah, kini lebih banyak orang yang mati akibat terlalu banyak makan ketimbang orang yang kurang makan, lebih banyak orang mati karena lanjut usia ketimbang karena penyakit menular dan lebih banyak orang yang melakukan bunuh diri ketimbang jumlah gabungan orang yang dibunuh oleh tentara, teroris dan penjahat.

Pada awal abad ke 20, lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat Mc Donald ketimbang akibat kekeringan, ebola atau peperangan.

KELAPARAN

Problematika kelaparan merupakan masalah yang selama ribuan tahun telah menjadi musuh terburuk kemanusiaan. Sebagian besar manusia hidup dibawah garis kemiskinan dan dipaksa tunduk pada gizi buruk dan lapar. Nasib buruk atau kebodohan pada tingkat kolektif mengakibatkan bencara kelaparan massal. 

Dalam wakta beberapa ratus tahun terakhir ini, perkembangan teknologi, ekonomi, dan politik telah menciptakan jaring pengaman yang semakin kuat yang memisahkan umat manusia dari garis kemalaratan biologis. Kelaparan massal memang masih melanda dari waktu-waktu, tetapi semua itu hampir selalu disebabkan oleh politik manusia, ketimbang bencana alam. Artinya, tidak ada lagi bencana kelaparan alamiah di dunia, yang ada hanya bencana kelaparan yang disebabkan oleh keinginan para politisi. 

Pada tingkat  kolektif jaringan perdagangan dunia mengubah kekeringan dan banjir menjadi peluang bisnis dan mempu mengatasib kelangkaan pangan dengan cepat dan murah. Meskipun ratusan juta orang masih kelaparan setiap hari, di sebagian besar negara sangat sedikit orang yang benar-benar mati kelaparan.

Seperti misalnya China, yang selama ribuan tahun bencana kelaparan mengintai setiap penguasa China. Pada 1974, konferensi pangan sedunia yang pertama diselenggarakan di Roma, mereka diberitahu bahwa tidak mungkin bagi China untuk memberi makan semiliar penduduknya. Namun faktanya, China menuju keajaiban ekonomi terbesar dalam sejarah. Sejak itu, ratusan juta orang China sudah dientaskan dari kemiskinan dan meskipun ratusan juta orang lainnya masih menderita karena kekurangan makanan dan gizi buruk, untuk kali pertama dalam sejarah, China kini bebas dari bencara kelaparan.

Disebagian besar negara masa kini, kelebihan makanan telah menjadi masalah yang jauh lebih buruk ketimbang bencana kelaparan. Pada 2014 lebih dari 2,1 milliar orang kelebihan berat badan. Coba kita bandingkan dengan 850 juta orang yang menderita gizi buruk. Setengah dari populasi manusia diperkirakan kelebihan berat badan pada 2030. Faktanya, pada 2010 kelaparan digabung dengan gizi buruk membunuh sekitar satu juta orang, sedangkan obesitas membunuh tiga juta orang.

Selasa, 23 Juni 2020

Perempuan dan Kecantikan Sosial Nya

Foto Lapak Baca CPI Makassar
Penulis : Akbar
Percaya atau tidak percaya, benar atau salah, keliru atau tidak, tiap perempuan terlahir menjadi cantik dan istimewa dibanding tiap bayi laki-laki. Hal ini diterima oleh penulis sebagai sebuah kalimat rasional sebab kata cantik hanya melekat pada perempuan, tidak pada laki-laki. Kecantikan yang dimaksud penulis adalah bawaan lahiriah seseorang sebagai perempuan yang saat ini selalu kita maknai dan ukur dengan pendekatan fisik semata. Mengapa demikian ? Sebab manusia lebih cenderung percaya dan menerima suatu hal yang bisa diterima dan dirasakan oleh panca indra mereka.

Definisi Cantik

Sebelum masuk rana sosial, perlu kiranya penulis mematenkan terlebih dahulu definisi “cantik” dan tidak cantik (atau jelek). Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, cantik adalah elok, molek (tentang wajah, muka perempuan). Entah siapa yang menyepakati definisi cantik menurut KKBI tadi, sehingga setiap pembaca akan memaknai sedikit banyak “cantik” sebagai, bagaimana kondisi wajah dan muka perempuan. Sehingga jika ditafsirkan lebih dalam, seakan-akan kecantikan selalu diukur dengan bentuk rupa dan muka perempuan saja, tidak dengan yang lainnya. Sungguh, satu titik yang menjadikan perempuan memperoleh diskriminasi secara definisi dan bahasa. Jika cantik di maknai demikian, maka yang tidak elok, tidak molek dan diluar dari pada tentang wajah dan muka perempuan, maka tidak layak disebut cantik dan pantas dikatakan jelek. Diluar dari definisi yang cendurung mendiskriminasi perempuan, penulis memilih mendefenisikan cantik dengan berbeda. Cantik versi penulis adalah setiap perempuan yang percaya dan menghargai pemberian tuhan akan keutuhan dirinya sebagai perempuan. Terlebih takaran cantik adalah tergantung selera maka definisi cantik otomatis akan berbeda-beda dan dinamis bagi tiap orang.

Kecantikan Sosial

Siapapun diantara kita pasti tidak jauh memaknai “kecantikan dan sosial” sebagai sesuatu tindakan terpuji dalam lingkungan masyarakat. Jika kecantikan selalu di ukur dengan standarisasi fisik maka penulis lagi-lagi menolak seragam dan enggan meng-iyakan. Setiap perempuan yang memiliki ketertarikan lebih dengan kondisi sosial adalah sesuatu yang spesial di mata penulis. Hal ini bukan semata-mata karena menyenangkan mata dengan hal-hal yang bersifat material, tetapi lebih dari itu. Perempuan dengan karakter sosial adalah nilai lebih yang di idam-idamkan oleh siapapun, sebab ia tak lepas dari pijakan simbol kemanusiaan yang tak hanya mengundang ke surga tapi turut mendekatkan dengan rindho ilahi dan makhluk di dunia. Manusia menurut penulis tidak hanya harus sholeh peribadatan (hubungan denga tuhan) tetapi juga harus menjadi sholeh sosial. Demikian pula perempuan, tiap perempuan semestinya tak hanya cantik secara lahiriah (biofisik) tetapi juga cantik secara sosial.

Dibalik upaya tiap perempuan agar cantik secara sosial, justru disisi yang sama kondisi sosial-lah yang mencedarai dan membelenggu perempuan sehingga memperoleh perlakuan tidak sama di masyarakat dan lingkungannya. Masyarakat punya defini berbeda dengan penulis terkait tema tulisan ini. Iya, Cantik menurut lingkungan dan masyarakat kita adalah perempuan yang berkulit putih dan mulus, berambut lurus, berat badan ideal dan tubuh tinggi serta masih banyak standar kecantikan yang di produksi masyarakat yang berdampak buruk bagi perempuan yang terlahir berbeda.

Apa yang dibangun dan dipercayai oleh masyarakat selama ini tentang bagaimana definisi cantiknya perempuan nyatanya membawa dampak buruk bagi citra, psikis dan kondisi rohani dan jasmani perempuan di kehidupan sosial dan lingkungannya. Terlebih hal ini diperparah dengan keterlibatan kepentingan pasar yang menjadikan perempuan sebagai pelaris dan daya tarik produknya. Misalnya saja pada iklan-iklan shampo yang tidak jarang disuguhkan di tv-tv rumah tangga. Dimana perempuan sebagai aktor produk shampo yang memiliki rambut panjang lurus hitam. Hal ini secara sadar atau tidak sadar membangun konstruk sosial masyarakat bahwa perempuan yang “cantik” itu sesuai dengan aktor yang ditampilkan pada iklan produk shampo tadi, sehingga membangun opini publik bahwa cantik itu yang memiliki rambut lurus panjang dan hitam dan semakin memperburuk citra perempuan yang memiliki kondisi rambut yang sebaliknya.

Belum lagi pada fenomena-fenomena yang lain misalnya pada iklan handbody yang mendeskripsikan perempuan cantik adalah mereka yang memiliki kulit putih dan mulus, bahkan pada rana politik yang memanfaatkan paras cantik caleg untuk menarik simpati para pemilih muda maupun tua. Semua hal tersebut menurut penulis merupakan upaya-upaya industrilisasi dan eksploitasi terhadap diri perempuan. 

Yang lebih mengkhawatirkan penulis adalah perempuan seakan-akan terjebak pada kontruk sosial dan eksploitasi tadi sehingga tidak sedikit perempuan merasa tidak percaya diri, terasing dan bahkan sampai pada rana melukai diri dan penghilangan nilai-nilai budaya. Melukai diri yang di maksud penulis adalah perempuan tanpa bersalah mengubah keaslian tubuhnya demi memuaskan dan memenuhi definisi cantik menurut standar masyarakat dan industri. Tentu ini, dapat dinilai penulis sebagai bentuk ketidaksyukuran kita terhadap karunia tuhan yang maha agung dan pemberi.

Hanya karena tuntutan masyarakat, perempuan secara sadar merekonstruksi ulang fungsi dan organ tubuhnya demi popularitas manusia lainnya. Sehingga tidak hanya merugikan perempuan secara fisik dan spritual, tetapi mengubah organ tubuh yang sebelumnya alami juga akan menghilangkan identitas manusia termasuk nilai-nilai budaya yang melekat pada tubuh perempuan sejak lahir.

Di akhir tulisan ini, penulis setidaknya punya catatan tersendiri bagi para pembaca terkhusus kepada perempuan. Yang pertama, perlu kiranya perempuan mengetahui bahwa orang-orang tidak berhak mendefinisikan cantik atas dirimu. Terlepas perempuan adalah makhluk produk budaya bukan berarti sebagai perempuan memilih pasrah  dan hanya ikut arus semata, sebab cantik yang sesungguhnya adalah bagaimana kamu menghargai dirimu sendiri dan pemberian karunia tuhan. Yang kedua, perlu kiranya perempuan agar memberanikan diri untuk melepas belenggu kontruk sosial yang selama ini menyudutkan perempuan, dengan melakukan aktivitas-aktivitas produktif sebagai aktualiasi diri dalam bermasyrakat seperti yang penulis aturkan pada judul tulisan bahwa perempuan semestinya tidak hanya sibuk mempercantik diri secara (fisik) tetapi juga cantik secara sosial dan spritual.

Semoga tulisan sederhana ini, dapat menjadi refleksi diri kita bersama, khususnya bagi para perempuan Indonesia. 

Selasa, 19 Mei 2020

Indonesia Terserah Terserah Indonesia

Foto : Perawat Covid-19
Penulis : Akbar
Belum lama ini,sejumlah tenaga medis Indonesia meluapkan kekesalan mereka terhadap pemerintah dalam beberapa kebijakan menghadapi Covid-19.

Tagar Indonesia Terserah menggema di media sosial berisikan foto-foto dan video tenaga medis yang menyayangkan sejumlah kebijakan pemerintah di antaranya adalah pengecualian pergerakan masyarakat keluar kota hingga diperbolehkannya warga berusia dibawah 45 tahun di 11 sektor untuk kembali bekerja di kantor.

Unggahan tersebut juga muncul sebagai respon atas ramainya sejumlah lokasi yang didatangi masyarakat. Padahal, pandemi virus belum reda. Data yang dirilis pemerintah bahkan menunjukkan virus itu terus menyebar.

Indonesia juga terus mencatat ratusan kasus baru setiap hari, totalnya sekarang melampuai 18.000 kasus. Data terakhir dari BNPB sebanyak 18,496 orang terinfeksi dan 1.221 diantaranya meninggal dunia. Namun masyarakat yang telah berulang kali diimbau untuk tetap berada dirumah justru keluar rumah. Banyak orang berani berkumpul hingga menimbulkan kerumunan yang rentan terjadi penularan Covid-19.

Tagar Indonesia Terserah seakan-akan memberi kesan bahwa tenaga medis  juga sepertinya sudah terserah dengan kelakuan masyarakat Indonesia yang sepertinya telah lupa bahwa kini tanah air tengah menghadapi sebuah pandemi yang menelan banyak korban jiwa. Kita semua semestinya khawatir melihat kembali padatnya pergerakan masyarakat di kawasan publik.

Kasus terbaru adalah gugurnya Ibu Ari Puspita Sari seorang perawat di rumah sakit Royal Surabaya yang meninggal bersama janin yang dikandungnya. Jika membuka data, saat ini jumlah dokter di Indonesia sangat minim. Dokter di Indonesia hanya ada di kisaran 200 ribu orang, sementara itu dokter spesialis paru hanya berjumlah 1.976. Artinya satu dokter paru melayani 245 orang warga Indonesia. Sejak maret, 52 dokter, perawat dan dokter gigi di Indonesia telah meninggal karena virus. 

Dalam perspektif paradigma fakta sosial, Tagar Indonesia Terserah dipandang sebagai penghilangan makna dan pelunturan fungsi sturuktur dan kesatuan sosial masyarakat. Emile Durkheim melihat bahwa pecah dan berkembangnya kesatuan-kesatuan sosial merupakan akibat langsung dari berkembangnya pembagian kerja sosial dalam masyarakat. Sehingga jika dikaitkan dengan kondisi sekarang dimana kita begitu ceroboh dan gegabah dan menolak patuh terhadap imbauan pemerintah. Paling tidak Hormati para sukarelawan yang bekerja keras untuk menyelamatkan hidup kita. Petugas kesehatan berjuang untuk memutus rantai pandemi, sementara dilain pihak orang hanya melanggar aturan, ini seperti cinta tak berbalas. Kita hadir sebagai manusia yang merusak dan intoleran terhadap sesama manusia.

Setiap hari tenaga medis berjuang di ruang dimana potensi terbesar tertular virus dan kematian, sedangkan banyak diantara kita mempertontonkan ego dan kelakuan yang tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga banyak orang. Ketika imbauan dan profesi tenaga medis tidak lagi dihargai maka lunturlah makna manusia dalam diri kita.

Dari hal-hal diatas, jadi tidak berlebihan jika penulis mengatakan bahwa saat ini ada 2 pandemi yang melanda masyarakat kita yaitu Covid-19 dan Kebodohan. Konteksnya adalah orang yang berjuang mempertaruhkan nyawa melihat yang diperjuangkan tidak peduli padanya. Kita dengan berani bepergian dimana saja, demi kesenangan dan kebutuhan dilain pihak ada dokter dan tenaga medis lainnya yang bertaruh nyawa.

Belum lagi kebijakan pemerintah yang semakin membuat masyarakat kebingugan. Regulasi PSBB misalnya dimana hampir disetiap daerah beda-beda dalam menafsirkannya. Hal ini diperparah dengan mulai pelonggaran PSBB yang pada hakikatnya sudah longgar.

Namun penulis ingin menutup tulisan ini dengan gairah optimistis, Indonesia terserah menurut penulis adalah bentuk lain dari edukasi bahaya virus. Untuk itu semua unsur masyarakat baik dari tingkat bawah hingga atas tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dan terus bersabar. Kita patut bersyukur sebab sejatinya masih ada upaya dari teman-teman tenaga medis ditengah kesungguhannya memberikan pelayanan terhadap pasien di rumah sakit tetapi tidak ingin diam dan membiarkan angka pasien terus bertambah. 

Untuk itu perlu kiranya kesadaran dan kepatuhan dimulai dari diri sendiri tiap individu. 

Namun tidak ada larangan untuk terus memikirkan makna frasa Indonesia Terserah dan Terserah Indonesia, jika kita masih enggan saling memahami dan toleran, kita semua bisa melontarkan pertanyaan yang sama, bagaimana jika tenaga medis kita benar-benar menyerah ?

Rabu, 22 April 2020

Senjata Hoax dan Tameng Pencitraan

Syahriadi Al-Bugisyi
PENCITRAAN dan pembentukan opini sesat melalui penyebaran HOAX menjelang Bulan Suci Ramadhan ini menghadapi Pandemi Covid-19 semakin meningkat dan memperihatinkan.
Penyebaran HOAX ini tengah menjadi persoalan yang cukup serius. HOAX menjadi salah satu pemicu fenomena putusnya pertemanan, gesekan dan permusuhan.

Informasi yang bersifat HOAX menyebar dengan cepat baik melalui saluran media sosial maupun grup diaplikasi chating seperti WhatsApp, Facebook dan selainnya.

Mengapa banyak orang yang mudah percaya dengan informasi-informasi HOAX dan mengapa pula penyebarannya begitu masif meski kebanarannya belum dapat dipastikan?

Maka jawabannya adalah orang lebih cenderung percaya HOAX jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya sehingga tercipta TAMENG PENCITRAAN. Misalnya; seseorang yang memang sudah tidak setuju terhadap sesuatu atau kebijakan tertentu. Maka ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, ia mudah percaya.

Intinya, jika HOAX menjadi SENJATA menakutkan, maka PENCITRAAN menjadi TAMENG yang digunakan sebagai perisai diri, melindungi dari gesekan benda atau senjata yang ditembakkan dengan emosi dan membabi buta.

Setali tiga uang, jika HOAX menjadi SENJATA yang membunuh, maka PENCITRAAN menjadi TAMENG yang meracuni.

Menghadapi Bulan Suci Ramadhan ini, tentunya kita harus melawan Penyebaran HOAX dan PENCITRAAN, sehingga Amal Ibadah yang kita lakukan menjadi BERKAH dengan selalu TABAYYUN dari segala informasi yang diterima.

Kita berdoa kepada Allah, semoga Keberkahan Bulan Suci Ramadhan dapat kita raih, dan Badai Wabah Virus Corona Segera Berlalu.

Wallahu A'lam

Senin, 20 April 2020

Kemuliaan Seorang Kartini

Muhammad Yusran

Kartini adalah pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia yang telah memperjuangkan persamaan derajat antara laki-laki dengan perempuan.

Semangat serta tekad kartini dalam memperjuangkan hak perempuan merupakan bentuk ilmplementasi dari firman Tuhan _“Hai manusia, sesungguhnya kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”_(QS.Al-Hujurat: 13).

Ayat diatas menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah membedakan hambanya dari segi jenis kelamin karena yang Tuhan lihat adalah tingkat ketakwaan seorang hamba dan perjuangan kartini merupakan bentuk ketakwaannya kepada Tuhan. Jika di lihat dari ketakwaan, sudah jelas Kartini lebih muliah dari laki-laki yang kerjanya hanya membuat kerusakan dimuka bumi.

Jika Tuhan saja sebagai Sang pencipta tidak mendiskreditkan Perempuan di hadapan laki-laki lantas mengapa kita sesama ciptaan begitu naif membedakan derajat perempuan dengan laki-laki.

Apabila firman Tuhan sebagai landasan tertinggi umat beragama belum mampu menyadarkan kita agar hidup saling menghargai baik perempuan maupun laki-laki, lantas kamu mau hidup yang bagaimana?.

Mari kita jadikan hari bersejarah ini sebagai momen melejitkan semangat agar bisa menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa sebagaimana semangat Kartini memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Ayo kartini masa kini buktikan pada Dunia bahwa kartini masih hidup dalam jiwa-jiwa kalian, kartini masih hidup dalam semangat juang kalian dan kartini masih hidup dalam aksi nyata kalian.


Selamat hari Kartini, Panjang Umur Perjuangan.

Perempuan Masa Kini

Armita : Sebuah rangkaian singkat untuk memperingati pelopor kebangkitan perempuan
Perempuan mulia, perempuan memiliki kemampuan, dan mahir apakah masih utuh di masa kini? perempuan hebat yang diciptakan tuhan apakah masih kuat di masa kini? sungguh penuh tanda tanya. apakah perempuan masih membelegu di dunia patriarki? yahhh masih seperti itu, mengatur alur keturunan dari pihak ayah. laki-laki lebih berkuasa dibanding perempuan. selalu di tempatkan di ranah domestik dan di singkirkan di ranah publik. apakah masih seperti itu perempuan kasa kini? 

Perempuan ingin keadilan di atas kuasanya bukan untuk didiskriminasi. perempuan bisa buktikan bahwa mereka bisa. pada dasarnya perempuan dan laki-laki sama di dunia ini. namun beberapa tempat yg menyudutkan perempuan di subordinatkan. struktur sosial  menempatkan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. bukan hanya itu, pelabelan meraja lela,kekerasan, bullying semakin melunjak misal, apakah perempuan hebat di ukur dari selaput darahnya? sungguh TIDAK. sadarr, hentikan omong kosong itu, hentikan bodyshamming yang membuat perempuan menutup diri dan membenci tubuhnya sendiri. 

Perempuan hebat menjadi tuan atas tubuhnya sendiri. bukan begitu? perempuan di cap sebagai penunggu rumah sekarang perempuan buktikan bahwa mereka bisa di ranah keduanya domestik maupun publik. lahirkan emansipasi perempuan sekarang membuktikan mereka menjadi pemimpin bukan pemimpi. lepas bekerja menduduki dunia politik,  mencari nafkah sendiri, go international, berkarir. bekerja sukarela tanpa tanda jasa,  betapa hebatnya para perempuan, ibu kartini tersenyum melihat perempuan masa kini. 

Teruntuk hari kartini -21 april-