Senin, 27 Juli 2020

Antara Kelaparan dan Kelebihan Makanan


Tulisan ringkas saya kali ini merupakan riview dari buku Homo Deus yang ditulis oleh Yuval Noah Harari bagian pengantar tentang Agenda Baru Umat Manusia. Selamat Mengeja teman-teman.

Generasi demi generasi manusia sudah berdoa kepada setiap tuhan, dewa, santa dan telah menemukan tak terhitung alat, institusi dan sistem sosial, tetapi mereka terus mati dalam jumlah jutaan akibat kelaparan, wabah dan kekerasan.

Banyak pemikir dan nabi menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah dan peperangan telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis tuhan atau karena alam kita yang memang belum sempurna dan sampai akhir duniapun kita tidak akan terbebas dari semua itu. 

Tetapi dalam beberapa dekade terakhir manusia berhasil mengatasi kelaparan, wabah dan perang meskipun belum sepenuhnya teratasi. Kita sangat tahu apa yang harus dilakukan dalam rangka mencegah kelaparan, wabah dan perang dan kita biasanya berhasil melakukannya.

Namun, ketika kelaparan, wabah dan perang melanda diluar kendali, kita merasa bahwa seseorang pasti mengacau, membentuk komisi penyelidik dan berjanji pada diri sendiri bahwa lain kali kita akan bertindak lebih baik.

Bencana-bencana seperti kelaparan memang sudah semakin sedikit dan lebih jaring. Untuk kali pertama dalam sejarah, kini lebih banyak orang yang mati akibat terlalu banyak makan ketimbang orang yang kurang makan, lebih banyak orang mati karena lanjut usia ketimbang karena penyakit menular dan lebih banyak orang yang melakukan bunuh diri ketimbang jumlah gabungan orang yang dibunuh oleh tentara, teroris dan penjahat.

Pada awal abad ke 20, lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat Mc Donald ketimbang akibat kekeringan, ebola atau peperangan.

KELAPARAN

Problematika kelaparan merupakan masalah yang selama ribuan tahun telah menjadi musuh terburuk kemanusiaan. Sebagian besar manusia hidup dibawah garis kemiskinan dan dipaksa tunduk pada gizi buruk dan lapar. Nasib buruk atau kebodohan pada tingkat kolektif mengakibatkan bencara kelaparan massal. 

Dalam wakta beberapa ratus tahun terakhir ini, perkembangan teknologi, ekonomi, dan politik telah menciptakan jaring pengaman yang semakin kuat yang memisahkan umat manusia dari garis kemalaratan biologis. Kelaparan massal memang masih melanda dari waktu-waktu, tetapi semua itu hampir selalu disebabkan oleh politik manusia, ketimbang bencana alam. Artinya, tidak ada lagi bencana kelaparan alamiah di dunia, yang ada hanya bencana kelaparan yang disebabkan oleh keinginan para politisi. 

Pada tingkat  kolektif jaringan perdagangan dunia mengubah kekeringan dan banjir menjadi peluang bisnis dan mempu mengatasib kelangkaan pangan dengan cepat dan murah. Meskipun ratusan juta orang masih kelaparan setiap hari, di sebagian besar negara sangat sedikit orang yang benar-benar mati kelaparan.

Seperti misalnya China, yang selama ribuan tahun bencana kelaparan mengintai setiap penguasa China. Pada 1974, konferensi pangan sedunia yang pertama diselenggarakan di Roma, mereka diberitahu bahwa tidak mungkin bagi China untuk memberi makan semiliar penduduknya. Namun faktanya, China menuju keajaiban ekonomi terbesar dalam sejarah. Sejak itu, ratusan juta orang China sudah dientaskan dari kemiskinan dan meskipun ratusan juta orang lainnya masih menderita karena kekurangan makanan dan gizi buruk, untuk kali pertama dalam sejarah, China kini bebas dari bencara kelaparan.

Disebagian besar negara masa kini, kelebihan makanan telah menjadi masalah yang jauh lebih buruk ketimbang bencana kelaparan. Pada 2014 lebih dari 2,1 milliar orang kelebihan berat badan. Coba kita bandingkan dengan 850 juta orang yang menderita gizi buruk. Setengah dari populasi manusia diperkirakan kelebihan berat badan pada 2030. Faktanya, pada 2010 kelaparan digabung dengan gizi buruk membunuh sekitar satu juta orang, sedangkan obesitas membunuh tiga juta orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar