Tana Keke merupakan salah satu kepulauan yang berada dalam administrasi wilayah Kabupaten Takalar. Sebagai Kepulauan, Tana Keke membawahi beberapa desa diantaranya Desa Tompo Tanah, Desa Danre-Danre, Kampung Bugis, Desa Balangdatu dan desa lainnya yang tidak sempat saya kunjungi.
Perjalanan dari Dermaga Takalar Lama menuju Pulau Tana Keke memakan waktu kurang lebih 50 menit dan jam 10 pagi adalah waktu yang paling lambat menunggu kapal jika tak mau berenang ke pulau. Kapal Jolloro menjadi andalan untuk mengankut para tuan dan barang bawaannya menuju pulau.
Selain dermaga menjadi tempat bersandarnya kapal, juga menjadi tempat jual beli masyarakat sekitar. Pasar dan Dermaga menyatu dalam keramaian manusia-manusia tiap pagi hingga menjelang siang. Pasar dalam dermaga menjelma sebagai pusat kehidupan bagi manusia-manusia pesisir di seberang lautan.
Kondisi lautan yang tenang, awalnya mengusir rasa khawatir yang tadinya memuncak. Seperempat perjalanan saya lewati dengan perasaan tenang, tapi kedamaian itu sayang tak berlangsung lama, ombak besar tanpa ragu bergantian menghantam kapal nahkoda. Semenjak itu, saya tak pernah berhenti membanyangkan, bagaimana jika kapal ini ditakdirkan terbalik oleh tuhan ?
Rasa khawatir yang saya sembunyikan akhirnya membeludak saat satu dua ombak menerjang kapal tanpa merasa berdosa. Tanganku yang tadinya lemas, kini memegang badan kapal akibat goncangan yang kian hebat. Ombak besar itu terus datang dan berulang, na'asnya semakin saya khawatir ombaknya semakin menakutkan. Air yang tadinya tenang, kini melompat masuk ke kapal bagai orang yang sedang kehausan. Saya tak henti-hentinya mengharap tuhan agar kesalamatan tetap berpihak pada hamba-hambanya. Waktu itu, saya secara spontan menjadi takwa, yang tak henti-hentinya memuji tuhan karena takut mati dilautan.
Perasaan khawatir di sisa perjalanan merupakan ancaman dan rasa gelisah yang wajar dimiliki oleh manusia. Apalagi, di saat kita dalam keadaan bahaya. Kehadiran tuhan begitu amat kita butuhkan. Dalam kondisi tenang, kita malah bermalas-malasan bahkan terkadang sengaja lupa terhadap tuhan, namun mengapa dalam kondisi khawatir dan gelisah akan suatu hal, tanpa malu kita datang mengemis pertolongan kepadanya ?
Dari kejauhan, beriringan dengan tenangnya lautan, terlihat susunan rumah warga pulau, lengkap dengan bentangan botol apung rumput laut dan jejeran perahu milik para nelayan. Kapal yang saya tumpangi akhrinya bersandar dengan sambutan warga yang ceria. Gedung Serba Guna seakan-akan sudah menunggu lama untuk bersua.
Saya bersama Ashar (kader HMI), di pandu oleh Ibrahim (warga pulau) masing-masing memikul barang bawaannya menuju rumah Ibrahim untuk istirahat.
Tak jauh berjalan kaki, sampailah saya dirumah Ibrahim. Disana, orang tua Ibrahim menyambut kami. Nenek Ibrahimpun tak mau ketinggalan, sambil mengayung cucunya di bawah teduhnya rumah panggung. Di ruang tamu bagian tengah, telah di suguhkan hidangan makan siang oleh tuan rumah. Ada cumi-cumi dengan ukuran yang tak biasa, sekawanan kepiting, sayur dan nasi serta lengkap dengan lombok kacang tumisnya. Sangat lahap saya menyantapnya.
Sorenya, saya kembali memulai perjalanan menuju Pantai Pasir Putih yang katanya dibanjiri warga tiap akhir pekan. Saya, Ashar, Ibrahmi dan juga bersama 3 perempuan lainnya menumpangi perahu dengan ukuran sedang. Perahu ini sama dengan perahu sampan, bedanya sampan biasanya tidak memakai mesin. Panjangnya kapalnya kira-kira 4-5 meter tanpa ati' (penyeimbang) yang dimiliki perahu nelayan pada umumnya. Awal menaikinya saya dan ashar ragu, tapi Ibrahim malah senyum-senyum. Saya membayangkan jika ombak besar datang, besar kemungkinan perahu ini terbalik (pikirku). Ternyata 3 perempuan tadi ikut berlabuh bersama kami, ada Irma, Inna dan Angki, di perahu yang sekecil ini ditumpangi oleh 6 orang. Saya semakin tidak yakin.
Naiklah 6 orang di perahu tadi secara bergantian. Irma adalah yang paling gemuk di antara kami dan berhasil menguncang perahu ketika Irma naik. Supaya seimbang, Ibrahim duduk paling belakang sebagai nahkoda, Inna berdiri paling depan sebagai buruh dan 4 lainnya termasuk saya duduk dibagian tengah sebagai penumpang.
Diperjalanan, disaat semua dalam keadaan sunyi tenang, tiba -tiba kami di kagetkan dengan sesuatu yang melompat dari air ke kapal. Seekor ikan Bandeng menyapa kami semua dan berhasil membuat kepanikan massal di perahu. Ukurannya cukup besar, katanya ikan Empang warga yang lepas. Butuh 20 menit untuk sampai ke Dermaga Desa Danre-Danre dengan pemandangan tanaman mangrove dan bekas galian di sepanjang perjalanan.
Di Desa Danre-Danre, saya menemui jejeran karung yang berisikan pasir-pasir, lululalang peliharaan teknak dari kambing hingga ayam tanpa bulu. Juga mengamati berbagai aktivitas nelayan selain dari pada melaut, ada yang berbincang-bincang, mengangkut bahan bakar dengan motor viar, semua terlihat tentram dengan kesibukannya masing-masing.
Saya dan 5 lainnya, melanjutkan perjalanan dengan menggunakan motor viar dengan membayar 5 ribu rupiah untuk rute pulang-pergi. Sepanjang perjalanan menggunakan viar, mata saya membelalak dan menjumpai beberapa pemandangan warga lokal. Saya melewati jalan setapak, dengan beragam panorama yang jarang ditemukan di perkotaan.
Ada segerombolan anak-anak yang bermain di kebunnya, menyepak bola takraw dengan begitu riang, sedangkan anak lainnya entah bermain apa. Mereka saling kejer-mengejar, bahagia dan begitu senang. Ada juga yang sedang mengayu sepedanya dan beberapa lainnya mendorongnya. Saya melihat pesepeda ini kelelahan, sebab mereka diharuskan mengangkut air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya. Warga pulau dan desa tidak seberungtung di daerah lainnya yang dapat menikmati air bersih tanpa perlu bersusah payah. Sungguh pemandangan ini, belum pernah saya temukan di Daerah perkotaan, dimana di kota anak-anak seusia mereka, asik terbuai dan berselancar dengan gadgetnya.
Saya juga menemukan seorang ibu rumah tangga, dengan sepeda motor tuanya, ia mengangkut beberapa jergen air juga. Ia nampak maskulin dibanding ibu rumah tangga lainnya. Dengan senyuman dan keberaniannya, ibu rumah tangga ini mematahkan pandangan kuno tentang ketidakmampuan perempuan dalam beraktivitas. Ia membuktikan bahwa ia bisa mengambil peran ganda yang biasanya di dominasi oleh laki-laki. Betul-betul keadilan gender nampak membumi di desa ini.
Kami sampai di Desa Balangdatu, setelah sebelumnya melewati Kampung Bugis. Tiap melintas di kampung ini, warga begitu antusias memandangi kami. Ada yang sedang duduk sebagaimana paguyuban dan ada yang sedang membelah kelapa muda di bawah teduhnya langit. Ada juga yang sedang mengangkut rumput untuk pakan ternak, juga memanjat dan memanen buah pala untuk di ambil airnya sebagai Ballo.
Setelah itu, kami berjalan kaki menuju pasir putih yang saya incar. Langit nampaknya mulai redup dan matahari sebentar lagi beranjak pergi. Setiap rumah warga yang saya lewati, tak jarang mereka mengundang kami untuk sekedar bercerita dan mampir. Tapi waktu kami tidak banyak, 5 km saya tempuh untuk sampai pada tujuan. Saya melewati empang warga dengan berbagai jenis isinya, ada ikan dan udang. Sesampainya, sunset dan hamparan pasir putih menyambut kami, terlihat menara pemantau yang gagah menjulang tinggi. Langit yang dihiasi langit merah dan burung migrasi menambah kesejukan alam di pesisir. Tapi sayang, tak berselang lama, lampu langit perlahan padam. Suasana yang tadinya riang, seketika berubah menjadi menakutkan. Ternyata tenaga untuk jalan menuju pulang sisa sekarat.
Kami beranjak pulang, sambil gelisah, terburu-buruh sebab mengkhawirkan jalan pulang, takutnya hanya akan satu hal, ketika perjalanan yang kita tapaki dengan tenaga terbatas ternyata adalah jalan yang salah. Saya dan lainnya bergantian mengulur napas, ada yang berpura-pura tertawa, memutar musik agar suasana tidak terlalu mencekam.
Sampai pada saat adzan terdegar, kami masih di perjalanan, bahkan belum setengahnya, gelap sebentar lagi menutupi terang sepenuhnya. Bergantian, diantara kami menyalakan cahaya gadgetnya sebagai pelipur senyap di tengah kepanikan. Dan ditengah perjalanan, setelah melewati semak belukar, juga beberapa petak Empang warga, Inna mengalami nasib tak baik. Inna jatuh ke dalam lubang yang sama sekali tidak saya duga, tercebur di empang warga. Ini sontak membuat saya panik, sebab suara Inna yang begitu nyaring. Saya kira ini nasib buruk dalam perjalanan ini, tapi kesalamatan masih ditakdirkan, Inna hanya jatuh dan tidak terluka, hanya saja pakaiannya jauh dari keindahan, hitam dan penuh bau empang. Seketika suasana tegang berkamuflase menjadi gemuruh tawa.
Gelap betul-betul datang dan dengan setiap menemani kami sampai pada pemukiman. Melalui viar tadi, kami di angkut seperti barang. Jokinya nampak keserupan memainkan gas motornya. Kami kaget sekaligus legah, akhirnya kita menuju pulang dan akan ada istirahat panjang. Baru kali ini, saya menyebrangi lautan, malam hari dengan suasana dingin. Seluruh penumpang kapal lebih banyak diam dan menyunyi.
Diperjalanan pulang, silau senter membuat mata kami berkedipan secara bergantian. Aktivitas malam hari ditengah dan pesisir pantai warga bermacam-macam. Mereka ternyata juga aktif di malam hari, untuk mengamankan persoalan perut dan belanja keluarga tiap hari. Nyawa para nelayan, pemuda dan anak-anak yang seharusnya belajar dan tertidur di rumah, kini bertaruh dengan dinginnya malam dalam ketidakpastian. Selama perjalanan pulang, satu terus bergumang dalam pikiran, mereka tidak seberuntung saya.
Sesampainya di darat, perahu kami disambut orang tua Ibrahim, mereka turut senang kami kembali dengan selamat.
Setelah makan malam dengan menu serba seafood, saya bersama Ashar dan Ibrahim bersilahturahmi dengan Karangtaruna Desa Tompo Tanah. Kami bertemu di pelataran dermaga dan berdikusi hangat di tengah hempasan angin pesisir. Segalanya kami bahas, dari Histori, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, kepercayaan hingga lelucoan yang menghadirkan tawa diantara kami. Saya dan teman lainnya disambut dengan sangat baik oleh teman-teman Karangtaruna. Diskusipun tak terasa telah menelan waktu dengan begitu lahap. Akhirnya tiupan angin yang kian kencang membubarkan diskusi dengan kepala dingin.
Sepulang diskusi, saya di bisiki ibrahim, bahwa Irma mengundang saya ke rumahnya. Tak jauh dari rumah Ibrahim, tepatnya di bawah rumah Irma, sekumpulan pemuda sedang khusyu' berdiskusi, saya sengaja mendengarkannya, mereka memperdebatkan tentang kesejahteraan dan kemudian desanya. Dalam benak saya berpikir, jauh dari keramaian kota ternyata masih ada sekelompok pemuda yang peduli dengan desanya. Mereka nampakknya merencanakan sesuatu, tapi saya tidak mendengar sepenuhnya.
Kami disambut Irma dan Innah, hadir pula Angki, kaka dari Irma, salah satu pemuda dan disusul kedua orang tua tuan rumah. Suasana sangat hangat, seperti keluarga besar yang sedang merayakan pertemuan. Di meja ruang tamu, disuguhkan kue dan air panas sebagai teman diskusi yang pendiam. Kami membahas segalanya, mulai dari A hingga Z, mulai dari batu, api, air dan besi. Gelas kosong betul-betul terisi kembali dengan pengetahuan terbaharui dan baru. Setelah lama bercerita, rasa ngantuk yang tak tertahan membubarkan kami dengan mudah. Selesailah diskusinya, kembalilah kami masing-masing dengan gelas yang telah terisi.
Esoknya, saya dan Ashar kepada keluarga Ibrahim berpamitan untuk pergi. Tepatnya pada pukul 6 pagi ,bersama penumpang lainnya, berpulang kembali menuju Dermaga Takalar, tentu dengan kepentingan dan tujuan masing-masing.
Dari perjalanan ini ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi :
1. Warga Pulau Tana Keke Selalu Memakmurkan Masjidnya
Saya mendapati jamaah yang begitu bergairah mengisi shaf-shaf masjid. Salah satunya Masjid Nurul Jihat yang tidak jauh dari rumah Ibrahim. Masjid berada di tengah pemukiman, diapit bangunan SD Inpres Tompo Tanah dan Kantor Desa. Kenapai warga berbondong-bondong shalat berjamaah di masjid ? Sedangkan masjid di pedesaaan biasanya sunyi sepi. Ternyata warga pulau pernah digegerkan dengan kabar akan datangnya bencana Dukhan. Bencana Dukhan adalah asap atau kabut tebal yang akan menutupi bumi selama 40 malam yang juga menjadi salah satu penanda akan terjadinya kiamat.
2. Plt Kepala Desa sudah diganti sebanyak 4 kali
Saya mendengar ini saat berdiskusi dengan teman-teman Karangtaruna. Pelaksana Tugas (Plt) sementara terus gonta-ganti. Belum ada kepastian jelas mengenai pemilihan Kades yang baru.
3. Tidak adanya proses belajar mengajar formal
Ini terjadi pada siswa (i) Sekolah Dasar Inpres Tompo Tanah. Faktor utamanya adalah tidak adanya tenaga pengajar (guru). Selain itu, fasilitas pembelajar juga tidak memadai, terlebih jika digelar secara daring. Mayoritas peserta didik tidak memiliki gadget untuk mengakses pendidikan. Penyebab lainnya juga dikarenakan kurang terjalinnya komunikasi antara Kepala Sekolah dengan pemangku kepentingan lainnya termasuk warga. Konon katanya, tipe kepemimipinan kepala sekolah dinilai kurang baik dan lebih banyak berada diluar pulau.
4. Krisis Air Bersih
Umumnya masalah yang di alami masyarakat yang bermukim di pulau, terkhusus warga di Desa Tompo Tanah adalah krisis air bersih dan layak pakai. Dulu pemerintah setempat menyediakan penyulingan yang diperadakan untuk mengubah air asin menjadi air tawar. Namun hal ini tidak bertahan lama sehingga warga harus membeli air di Takalar yang diangkut dengan Kapal Jolloro. Harga air 4 ribu perjeregen (jergen 25liter). Air ini hanya digunakan untuk keperluan pangan saja. Saya benar-benar merasakan bagaimana cara menghemat air ketika berada di pulau. Ketika bangun tidur, saya hanya menggunakan satu gayung ukuran sedang untuk cuci muka sekalian dengan berwudhu. Satu ember kecil digunakan untuk mandi.
5. Batasan Pemakaian Listrik
Di Desa Tompo Tanah, listrik hanya dapat dinikmati pada jam tertentu. Listik mulai mengaliri rumah warga mulai jam 5 sore sampai jam 6 pagi. Setelahnya akan mati. Bahkan ada desa yang sama sekali tidak teraliri listrik di pulau Tana Keke ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar