Rabu, 22 April 2020

Senjata Hoax dan Tameng Pencitraan

Syahriadi Al-Bugisyi
PENCITRAAN dan pembentukan opini sesat melalui penyebaran HOAX menjelang Bulan Suci Ramadhan ini menghadapi Pandemi Covid-19 semakin meningkat dan memperihatinkan.
Penyebaran HOAX ini tengah menjadi persoalan yang cukup serius. HOAX menjadi salah satu pemicu fenomena putusnya pertemanan, gesekan dan permusuhan.

Informasi yang bersifat HOAX menyebar dengan cepat baik melalui saluran media sosial maupun grup diaplikasi chating seperti WhatsApp, Facebook dan selainnya.

Mengapa banyak orang yang mudah percaya dengan informasi-informasi HOAX dan mengapa pula penyebarannya begitu masif meski kebanarannya belum dapat dipastikan?

Maka jawabannya adalah orang lebih cenderung percaya HOAX jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya sehingga tercipta TAMENG PENCITRAAN. Misalnya; seseorang yang memang sudah tidak setuju terhadap sesuatu atau kebijakan tertentu. Maka ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, ia mudah percaya.

Intinya, jika HOAX menjadi SENJATA menakutkan, maka PENCITRAAN menjadi TAMENG yang digunakan sebagai perisai diri, melindungi dari gesekan benda atau senjata yang ditembakkan dengan emosi dan membabi buta.

Setali tiga uang, jika HOAX menjadi SENJATA yang membunuh, maka PENCITRAAN menjadi TAMENG yang meracuni.

Menghadapi Bulan Suci Ramadhan ini, tentunya kita harus melawan Penyebaran HOAX dan PENCITRAAN, sehingga Amal Ibadah yang kita lakukan menjadi BERKAH dengan selalu TABAYYUN dari segala informasi yang diterima.

Kita berdoa kepada Allah, semoga Keberkahan Bulan Suci Ramadhan dapat kita raih, dan Badai Wabah Virus Corona Segera Berlalu.

Wallahu A'lam

Senin, 20 April 2020

Kemuliaan Seorang Kartini

Muhammad Yusran

Kartini adalah pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia yang telah memperjuangkan persamaan derajat antara laki-laki dengan perempuan.

Semangat serta tekad kartini dalam memperjuangkan hak perempuan merupakan bentuk ilmplementasi dari firman Tuhan _“Hai manusia, sesungguhnya kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”_(QS.Al-Hujurat: 13).

Ayat diatas menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah membedakan hambanya dari segi jenis kelamin karena yang Tuhan lihat adalah tingkat ketakwaan seorang hamba dan perjuangan kartini merupakan bentuk ketakwaannya kepada Tuhan. Jika di lihat dari ketakwaan, sudah jelas Kartini lebih muliah dari laki-laki yang kerjanya hanya membuat kerusakan dimuka bumi.

Jika Tuhan saja sebagai Sang pencipta tidak mendiskreditkan Perempuan di hadapan laki-laki lantas mengapa kita sesama ciptaan begitu naif membedakan derajat perempuan dengan laki-laki.

Apabila firman Tuhan sebagai landasan tertinggi umat beragama belum mampu menyadarkan kita agar hidup saling menghargai baik perempuan maupun laki-laki, lantas kamu mau hidup yang bagaimana?.

Mari kita jadikan hari bersejarah ini sebagai momen melejitkan semangat agar bisa menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa sebagaimana semangat Kartini memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Ayo kartini masa kini buktikan pada Dunia bahwa kartini masih hidup dalam jiwa-jiwa kalian, kartini masih hidup dalam semangat juang kalian dan kartini masih hidup dalam aksi nyata kalian.


Selamat hari Kartini, Panjang Umur Perjuangan.

Perempuan Masa Kini

Armita : Sebuah rangkaian singkat untuk memperingati pelopor kebangkitan perempuan
Perempuan mulia, perempuan memiliki kemampuan, dan mahir apakah masih utuh di masa kini? perempuan hebat yang diciptakan tuhan apakah masih kuat di masa kini? sungguh penuh tanda tanya. apakah perempuan masih membelegu di dunia patriarki? yahhh masih seperti itu, mengatur alur keturunan dari pihak ayah. laki-laki lebih berkuasa dibanding perempuan. selalu di tempatkan di ranah domestik dan di singkirkan di ranah publik. apakah masih seperti itu perempuan kasa kini? 

Perempuan ingin keadilan di atas kuasanya bukan untuk didiskriminasi. perempuan bisa buktikan bahwa mereka bisa. pada dasarnya perempuan dan laki-laki sama di dunia ini. namun beberapa tempat yg menyudutkan perempuan di subordinatkan. struktur sosial  menempatkan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. bukan hanya itu, pelabelan meraja lela,kekerasan, bullying semakin melunjak misal, apakah perempuan hebat di ukur dari selaput darahnya? sungguh TIDAK. sadarr, hentikan omong kosong itu, hentikan bodyshamming yang membuat perempuan menutup diri dan membenci tubuhnya sendiri. 

Perempuan hebat menjadi tuan atas tubuhnya sendiri. bukan begitu? perempuan di cap sebagai penunggu rumah sekarang perempuan buktikan bahwa mereka bisa di ranah keduanya domestik maupun publik. lahirkan emansipasi perempuan sekarang membuktikan mereka menjadi pemimpin bukan pemimpi. lepas bekerja menduduki dunia politik,  mencari nafkah sendiri, go international, berkarir. bekerja sukarela tanpa tanda jasa,  betapa hebatnya para perempuan, ibu kartini tersenyum melihat perempuan masa kini. 

Teruntuk hari kartini -21 april-

Perempuan Tidak Bisa Apa-Apa

Amalia : perempuan bisa melakukan apa saja, menjadi apa saja yang ia inginkan, karena dia ada untuk dirinya
Saya butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menulis ini. Bukan karena kehabisan ide tapi karena saya terjebak dengan tema yang diberikan. Tema yang harus saya katakan aneh dan membingungkan, maksud saya kenapa hal ini harus di pertanyakan?

Jika pertanyaan “perempuan bisa apa?” dilontarkan ke pada saya, dengan gamblang saya akan menjawab. “ perempuan tidak bisa apa-apa.”

Itu bukan sifat pesimis, itu kenyataan yang harus kita terima bersama, bahwasahnya perempuan sekarang hanya tinggal duduk manis dengan wajah penuh riasan dan mengenakan pakaian terbaik yang sudah di pilihkan untuknya, entah ia nyaman dengan hal itu atau tidak. Perempuan tidak akan memikirkan itu, asal dia terlihat cantik, itu sudah cukup.  Toh itu sudah menggambarkan dirinya sebagai perempuan.

Perempuan di mata masyarakat adalah dia yang berdiam diri dirumah, mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, memasak, mencuci dan merawat anak. Kita belum lagi membahas standar kecantikan yang entah dibuat oleh perempuan itu sendiri ataukah demi kesenangan lelaki?
Perempuan yang cantik adalah dia yang berkulit putih, mulus, glowing, bibir merah merona, dengan senyum menawan. Itu baru di bagian wajah kita belum membahas tubuh rampingnya,  gaya rambutnya, dan model pakaiannya. Saya baru tau menjadi perempuan ternyata serempong itu. Entah perempuan yang lain sadar atau tidak. Jawabanya tidak, perempuan tidak pernah sadar akan kerempongan menjadi perempuan sesuai standar masyarakat. Mereka sudah nyaman dengan itu semua. Bagi mereka itu sudah kodrat perempuan, berdandan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Sejak kecil perempuan sudah di tanamkan nilai-nilai keperempuanan, dan norma-norma keperempuanan sesuai standar masyarakat yang ada.

Sama halnya masyarakat beragama, perempuan harus tinggal dirumah, menuruti kata suami, mengurus rumah tangga, menutup aurat, menjaga pandangan dan tutur kata dan masih banyak lainnya yang jelas mengatur perempuan sepenuhnya.  Namun pernah tidak lelaki di atur seperti itu?
Begitulah perempuan sudah tidak bisa berpikir, tidak bisa apa-apa pula.
Saya teringat tanggal 21 april mendatang diperingati sebagai hari kartini. Ada berbagai macam cara memperingati hari Kartini, bisa dengan membaca puisi, festival busana dan masih banyak lagi.

Memperingati hari itu bukan hanya sekedar dengan mengigat sosok perempuan keturunan Jawa, berkulit matang sawo itu  dan bukan pula dengan mengenakan kostum  Kartini kemudian berfoto dengan caption ala-ala perjuangan perempuan kemudian di upload ke media sosial . Cukup dengan  tidak melakukan apa-apa.

Ada satu hal yang membuat saya menyenangi R.A Kartini yaitu obsesianya terhadap pendidikan perempuan Eropa kala itu. Perempuan Eropa yang cakap dan mampu menyampaikan pendapatnya di muka umum. Harapan kartini perempuan pribumi indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak dan bisa secakap perempuan Eropa.

Di zaman modern sekarang ini, perempuan sudah memperoleh pendidikan yang layak, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mencanankan pendidikan 12 tahun yang sebenarnya memberi beban kepada mereka yang tidak mampu secara ekonomi.

Kemudian  banyak pula dari mereka prempuan-perempuan indonesia yang menempuh pendidikan diluar negeri(bagi yang mampu). Namun berbeda halnya dengan perempuan dari kelas bawah, perempuan-perempuan itu masih harus bergulat melawan stigma negatif terhadap perempuan dan keluar dari sistem masyarakat patriarki.

Patriarki adalah sistem yang mendominasi oleh lelaki. Sistem yang menjadikan lelaki sebagai pemegang kuasa utama, baik diranah politik, sosial, dan ekonomi. Segala sistem yang di bentuk hanya menyenangkan bagi pihak lelaki dan tidak  perempuan.

Masih ingat dengan Ni Putu Kariani seorang perempuan dari Bali yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya sendiri. Kariani  menerima tindak kekerasan mulai dari kecil sampai besar, misal tubuh disundut rokok, kepala dipukul sampai benjol (dan harus di operasi) terakhir yang menjadi sorotan yaitu ketika kakinya dipotong oleh sang suami.

Dari keterangan pihak keluarga, Kariani sudah mengalami KDRT selama betahun-tahun. Kariani sempat berinisiatif untuk bercerai dengan suaminya namun pihak keluarga tidak menyetujuinya, justru malah meminta Kariani yang sudah babak belur untuk bersabar.

Banyak kiranya faktor penyebab timbulnya tindak KDRT ini, namun tak terlepas dari sistem patriarki. Dimana lelaki dipandang sebagai pemengang kuasa dalam rumah tangga, memiliki otoritas untuk mengatur, memilih, mengarahnkan bahkan memerintah anggota keluarga. Sistem patriarki inilah yang menyebabkan lelaki jadi semena-mena bertidak, seolah yang ia lakukan sudah benar.

Dalam banyak kasus kekerasan maupun pelecehan terhadap perempuan yang akan di salahkan pertama kali adalah perempuannya.

Dalam masyarakat patriarki perempuan akan disalahkan, diaggap tak mampu membela dirinya saat perlaku kekerasan menyerangnya. Oh tunggu dulu, bukankah dalam masyarakat sendiri perempuan di gambarkan lemah, wajar bukan jika dia tidak melawan? Terus kenapa malah disahlahkan? Aneh.

Kasus Kariani merupakan salah satu dari sekian banyak kerugian perempuan dari sistem patriarki. Jadi, perempuan bisa apa? Yah tidak bisa apa-apa.

Perempuan sejak kecil sudah dididik seperti itu, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa berpikir, tidak bisa memutuskan, tidak  memiliki relasi kuasa dan bahkan tidak punya otoritas terhadap dirinya sendiri, lemah dan tidak berdaya. Berbeda dengan lelaki,  lelaki dididik menjadi pemimpin, tidak cengeng, memiliki kuasa, kuat,  rasional, Memiliki otoritas terhadap dirinya dan bijak dalam memutiskan sesuatu.

Perempuan tidak harus melakukan apa-apa, toh semuanya sudah diatur. Tidak perlulah susah payah memperjuangkan keadilan  bagaimanapun perempuan akan disalahkan,  paling-paling disuruh sabar. Cukup diam, lakukan pekerjaanmu di ranah domestik atau bagi yang belum menikah, silahkan bersolek sesuka hati kalian, berfoto sebanyak-banyaknya dengan berbagai gaya, kemudian upload tanpa takut dilecehkan. Toh kalian di lecehkan, diperkosa, bahkan dianiaya kalian juga yang bakalan disalahnya, dan anehnya yang menyalahkan kalian banyak datang dari sesama perempuan sendiri. Miris.

Lebih miris lagi, di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini perempuan justru menjadikan diri mereka sebagai objek orang lain. Mereka dengan mudahnya memamerkan tubuh mereka di media sosial dengan tarian atau ekspresi yang justru malah memancing para lelaki bejat untuk melecehkan mereka. Namun perempuan itu merasa baik-baik saja, bahkan menikmati segala pujian lelaki terhadap riasan wajah, kulit putihnya dan bahkan bentuk tubuhnya. Lelaki bisa melecehkan perempuan tanpa menyentunya yaitu dengan menghayalkan tubuh si perempuan. Mereka perempuan tidak sadar bahwa mereka tengah dilecehkan, memang perempuan tidak bisa berpikir.

Perempuan jaman sekarang lebih memilih Skincere-an, maskeran, luluran, meke upan demi nampak putih nan glowing di hadapan lelaki. Pada dasarnya memang perempuan yang memancing lelaki. Jadi untuk apa berjuang? Perempuan itu sendiri yang menjadikan dirinya bodoh. Sia-sia lah perjuangan Kartini yang ingin menjadikan perempuan indonesia maju dengan pendidikan, membuat mereka cakap lagi cerdas dalam berpikir guna keluar dari belenggu patriarki yang merugikan.
Sia-sia belaka perjuanganmu Kartini, maksud hati ingin meniru pendidikan kaum kulit putih, yang terjadi perempuan malah meniru warna kulit kaum berkulit putih.

Namun tidak bisa kita pungkiri lelaki ataupun perempuan mereka adalah manusia. Mereka sama dimata Tuhannya, memiliki otak untuk perpikir, saling bertukar pikiran dalam memecahkan sebuah masalah atau menentukan suatu pilihan, bahkan dapat bekerja sama dalam ranah domestik maupun finansial.
Perempuan bukan hanya sekedar objek, bukan hanya sebatas makhluk dapur semata. Perempuan ada untuk dirinya, perempuan adalah manusia. Sebagaimana manusia dikutuk untuk bebas, menentukan pilihan tanpa takut terpengaruh orang lain dan diperbudah orang lain. Dan dari pilihan-pilihan itu menentukan otoritasnya.

Jika ditanya  “perempuan bisa apa?” Jawab, “ saya butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menulis ini. Bukan karena kehabisan ide tapi karena saya terjebak dengan tema yang diberikan. Tema yang harus saya katakan aneh dan membingungkan, maksud saya kenapa hal ini harus di pertanyakan?

Jika pertanyaan “perempuan bisa apa?” dilontarkan ke pada saya, dengan gamblang saya akan menjawab. “ perempuan tidak bisa apa-apa.”

Itu bukan sifat pesimis, itu kenyataan yang harus kita terima bersama, bahwasahnya perempuan sekarang hanya tinggal duduk manis dengan wajah penuh riasan dan mengenakan pakaian terbaik yang sudah di pilihkan untuknya, entah ia nyaman dengan hal itu atau tidak. Perempuan tidak akan memikirkan itu, asal dia terlihat cantik, itu sudah cukup.  Toh itu sudah menggambarkan dirinya sebagai perempuan.

Perempuan di mata masyarakat adalah dia yang berdiam diri dirumah, mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, memasak, mencuci dan merawat anak. Kita belum lagi membahas standar kecantikan yang entah dibuat oleh perempuan itu sendiri ataukah demi kesenangan lelaki?
Perempuan yang cantik adalah dia yang berkulit putih, mulus, glowing, bibir merah merona, dengan senyum menawan. Itu baru di bagian wajah kita belum membahas tubuh rampingnya,  gaya rambutnya, dan model pakaiannya. Saya baru tau menjadi perempuan ternyata serempong itu. Entah perempuan yang lain sadar atau tidak. Jawabanya tidak, perempuan tidak pernah sadar akan kerempongan menjadi perempuan sesuai standar masyarakat. Mereka sudah nyaman dengan itu semua. Bagi mereka itu sudah kodrat perempuan, berdandan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Sejak kecil perempuan sudah di tanamkan nilai-nilai keperempuanan, dan norma-norma keperempuanan sesuai standar masyarakat yang ada.

Sama halnya masyarakat beragama, perempuan harus tinggal dirumah, menuruti kata suami, mengurus rumah tangga, menutup aurat, menjaga pandangan dan tutur kata dan masih banyak lainnya yang jelas mengatur perempuan sepenuhnya.  Namun pernah tidak lelaki di atur seperti itu?
Begitulah perempuan sudah tidak bisa berpikir, tidak bisa apa-apa pula.
Saya teringat tanggal 21 april mendatang diperingati sebagai hari kartini. Ada berbagai macam cara memperingati hari Kartini, bisa dengan membaca puisi, festival busana dan masih banyak lagi.

Memperingati hari itu bukan hanya sekedar dengan mengigat sosok perempuan keturunan Jawa, berkulit matang sawo itu  dan bukan pula dengan mengenakan kostum  Kartini kemudian berfoto dengan caption ala-ala perjuangan perempuan kemudian di upload ke media sosial . Cukup dengan  tidak melakukan apa-apa.
Ada satu hal yang membuat saya menyenangi R.A Kartini yaitu obsesianya terhadap pendidikan perempuan Eropa kala itu. Perempuan Eropa yang cakap dan mampu menyampaikan pendapatnya di muka umum. Harapan kartini perempuan pribumi indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak dan bisa secakap perempuan Eropa.

Di zaman modern sekarang ini, perempuan sudah memperoleh pendidikan yang layak, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mencanankan pendidikan 12 tahun yang sebenarnya memberi beban kepada mereka yang tidak mampu secara ekonomi.
Kemudian  banyak pula dari mereka prempuan-perempuan indonesia yang menempuh pendidikan diluar negeri(bagi yang mampu). Namun berbeda halnya dengan perempuan dari kelas bawah, perempuan-perempuan itu masih harus bergulat melawan stigma negatif terhadap perempuan dan keluar dari sistem masyarakat patriarki.

Patriarki adalah sistem yang mendominasi oleh lelaki. Sistem yang menjadikan lelaki sebagai pemegang kuasa utama, baik diranah politik, sosial, dan ekonomi. Segala sistem yang di bentuk hanya menyenangkan bagi pihak lelaki dan tidak  perempuan.

Masih ingat dengan Ni Putu Kariani seorang perempuan dari Bali yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya sendiri. Kariani  menerima tindak kekerasan mulai dari kecil sampai besar, misal tubuh disundut rokok, kepala dipukul sampai benjol (dan harus di operasi) terakhir yang menjadi sorotan yaitu ketika kakinya dipotong oleh sang suami.

Dari keterangan pihak keluarga, Kariani sudah mengalami KDRT selama betahun-tahun. Kariani sempat berinisiatif untuk bercerai dengan suaminya namun pihak keluarga tidak menyetujuinya, justru malah meminta Kariani yang sudah babak belur untuk bersabar.

Banyak kiranya faktor penyebab timbulnya tindak KDRT ini, namun tak terlepas dari sistem patriarki. Dimana lelaki dipandang sebagai pemengang kuasa dalam rumah tangga, memiliki otoritas untuk mengatur, memilih, mengarahnkan bahkan memerintah anggota keluarga. Sistem patriarki inilah yang menyebabkan lelaki jadi semena-mena bertidak, seolah yang ia lakukan sudah benar.
Dalam banyak kasus kekerasan maupun pelecehan terhadap perempuan yang akan di salahkan pertama kali adalah perempuannya.

Dalam masyarakat patriarki perempuan akan disalahkan, diaggap tak mampu membela dirinya saat perlaku kekerasan menyerangnya. Oh tunggu dulu, bukankah dalam masyarakat sendiri perempuan di gambarkan lemah, wajar bukan jika dia tidak melawan? Terus kenapa malah disahlahkan? Aneh.

Kasus Kariani merupakan salah satu dari sekian banyak kerugian perempuan dari sistem patriarki. Jadi, perempuan bisa apa? Yah tidak bisa apa-apa.
Perempuan sejak kecil sudah dididik seperti itu, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa berpikir, tidak bisa memutuskan, tidak  memiliki relasi kuasa dan bahkan tidak punya otoritas terhadap dirinya sendiri, lemah dan tidak berdaya. Berbeda dengan lelaki,  lelaki dididik menjadi pemimpin, tidak cengeng, memiliki kuasa, kuat,  rasional, Memiliki otoritas terhadap dirinya dan bijak dalam memutiskan sesuatu.

Perempuan tidak harus melakukan apa-apa, toh semuanya sudah diatur. Tidak perlulah susah payah memperjuangkan keadilan  bagaimanapun perempuan akan disalahkan,  paling-paling disuruh sabar. Cukup diam, lakukan pekerjaanmu di ranah domestik atau bagi yang belum menikah, silahkan bersolek sesuka hati kalian, berfoto sebanyak-banyaknya dengan berbagai gaya, kemudian upload tanpa takut dilecehkan. Toh kalian di lecehkan, diperkosa, bahkan dianiaya kalian juga yang bakalan disalahnya, dan anehnya yang menyalahkan kalian banyak datang dari sesama perempuan sendiri. Miris.

Lebih miris lagi, di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini perempuan justru menjadikan diri mereka sebagai objek orang lain. Mereka dengan mudahnya memamerkan tubuh mereka di media sosial dengan tarian atau ekspresi yang justru malah memancing para lelaki bejat untuk melecehkan mereka. Namun perempuan itu merasa baik-baik saja, bahkan menikmati segala pujian lelaki terhadap riasan wajah, kulit putihnya dan bahkan bentuk tubuhnya. Lelaki bisa melecehkan perempuan tanpa menyentunya yaitu dengan menghayalkan tubuh si perempuan. Mereka perempuan tidak sadar bahwa mereka tengah dilecehkan, memang perempuan tidak bisa berpikir.

Perempuan jaman sekarang lebih memilih Skincere-an, maskeran, luluran, meke upan demi nampak putih nan glowing di hadapan lelaki. Pada dasarnya memang perempuan yang memancing lelaki. Jadi untuk apa berjuang? Perempuan itu sendiri yang menjadikan dirinya bodoh. Sia-sia lah perjuangan Kartini yang ingin menjadikan perempuan indonesia maju dengan pendidikan, membuat mereka cakap lagi cerdas dalam berpikir guna keluar dari belenggu patriarki yang merugikan.
Sia-sia belaka perjuanganmu Kartini, maksud hati ingin meniru pendidikan kaum kulit putih, yang terjadi perempuan malah meniru warna kulit kaum berkulit putih.

Namun tidak bisa kita pungkiri lelaki ataupun perempuan mereka adalah manusia. Mereka sama dimata Tuhannya, memiliki otak untuk perpikir, saling bertukar pikiran dalam memecahkan sebuah masalah atau menentukan suatu pilihan, bahkan dapat bekerja sama dalam ranah domestik maupun finansial.
Perempuan bukan hanya sekedar objek, bukan hanya sebatas makhluk dapur semata. Perempuan ada untuk dirinya, perempuan adalah manusia. Sebagaimana manusia dikutuk untuk bebas, menentukan pilihan tanpa takut terpengaruh orang lain dan diperbudah orang lain. Dan dari pilihan-pilihan itu menentukan otoritasnya.

Jika ditanya  “perempuan bisa apa?” Jawab, “perempuan bisa melakukan apa saja, menjadi apa saja yang ia inginkan, karena dia ada untuk dirinya.”

Tapi sayangnya, perempuan tidak pernah memikirkan hal itu.

Perempuan Bisa Apa

Indonesia Tanpa Perempuan adalah Indonesia yang Mati
Yang paling sering kita dengar dari kisah perjuangan Kartini adalah semangat emansipasi perempuan, namun benarkah perempuan hari ini tidak mampu meneruskan semangat itu dan tidak berdaya di ombang ambing ombak patriarki.

Tema yang ditentukan oleh penyelenggara lomba opini membuat saya berpikir, selain karena 21 april mendatang merupakan hari Kartini, mengapa penyelenggara memilih tema tentang perempuan ? bahkan penyelenggara lebih rinci menulis “Perempuan bisa apa” yang kemudian membawa saya pada sebuah pertanyaan, sepertinya perempuan hari ini benar benar mengamini bahwa perempuan memang tidak bisa berbuat apa-apa. 

Mengutip informasi yang saya peroleh dari media tv, Indonesia negara ketiga paling rendah indeks kesetaraan gendernya, sebelum Laos dan Myanmar. Hal ini membuat kita berpikir apa yang salah dari ketertinggalan ini, sementara logikanya adalah manusia tidak akan lahir tanpa seorang ibu atau perempuan, Indonesia tanpa perempuan adalah Indonesia yang mati. 

Saya kemudian menggolongkan dengan sederhana, yang memasung perempuan sehingga dari dulu hingga sekarang merasa tak berdaya adalah ketidakadilan gender baik bagi perempuan  yang betul betul merasakannya sebagai fakta maupun hanya sebatas sebuah nilai sosial yang dilekatkan masyarakat pada diri perempuan (konstruk sosial). Ketidakadilan ini lebih spesifik lagi dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama kekerasan terhadap perempuan dan porsi pekerjaan (rana publik).

Sejauh ini, anggapan masyarakat pada umumnya mencap bahwa laki-laki selalu unggul dibanding perempuan sehingga laki-laki merasa superior atas diri perempuan, laki-laki selalu menganggap bahwa perempuan tidak lain hanyalah alat kepemilikan yang ia kuasai. Begitu pula sebaliknya, perempuan selalu merasa tidak mendapatkan keadilan atas diri laki-laki dan lingkungannya. Sehingga tidak heran, perempuan selalu berdiri pada posisi yang rentan akan kekerasan, baik itu kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Lebih jauh, dalam rana kehidupan sosial, perempuan selalu dianggap sebagai individu yang lemah, lembut, sensitif dan tidak cakap diberi tanggung jawab. Hal ini dirasakan perempuan pada rana publik misalnya saja pekerjaan, mereka dicap sebagai manusia yang tidak mampu bekerja dalam profesi tertentu sehingga perempuan mengalami diskriminasi profesi.

Belum lagi dalam hal politik bahkan pada rana yang paling intim misalnya dalam kehidupan berumah tangga, hampir dimana saja dan kapan saja, perempuan merasa atau bisa jadi memang memperoleh ketidakadilan atas diri laki-laki dan lingkungannya. Perempuan betul betul dipasung dan terpasung sehingga menjadi manusia yang kehilangan hak adil, setara dan kemerdekaannya.

Padahal jika dibuka dari segi regulasi, perempuan telah memperoleh jaminan dan perlindungan atas berbagai bentuk diskriminasi. Ada UU No 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan dengan harapan perempuan dapat terlibat dan turut mengambil peran dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional tanpa diskriminasi gender, ada UU No 1 tahun 2017 Tentang Kesetaraan Gender, dan UU lainnya.

Namun yang menjadi masalah adalah pemerintah dari dulu menggiatkan upaya kesetaraan gender tapi sampai saat ini kesenjangan semakin nyata. Mengapa demikian ? Saya melihat bahwa regulasi yang dibuat pemerintah terkait keadilan gender nyatanya tidak di imbangi dengan edukasi. Misalnya saja edukasi seperti pola asuh, pemberian gizi dan pendidikan seks yang benar dan tepat. Artinya apa, regulasi tanpa edukasi tidak akan pernah mencapai titik maksimal regulasi itu sendiri. Bayangkan saja, fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat, misalnya perkawinan anak yang terbilang dini, kok masih usia anak tapi sudah punya anak.

Menurut BadanPusat Statistik, pada tahun 2019 Indonesia memiliki 66 juta lebih remaja perempuan, artinya ada banyak calon ibu ke depannya yang tentu membawa konsep yang berbeda dengan ibu-ibu yang sekarang. Hemat saya, bagaimana perjuangan dan kondisi perempuan di masa depan sangat tergantung bagaimana perempuan masa kini dibentuk.

Tutup penulis, sudah saatnya UU terkait Keadilan Gender yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu dibawa ke meja pemangku kebijakan untuk kemudian direvisi dan disesuaikan dengan perubahan perkembangan zaman dan kebutuhan perempuan khususnya, sebab UU yang ada nyatanya belum mampu mewujudkan subtansinya di lapangan. 

Terbilang penting, agar perlu kiranya pemerintah mulai menyadari bahwa perempuan juga mampu memproduksi nilai dan berperan dalam pembangunan bangsa dan negara. Melalui tulisan ini, penulis juga menitip pesan untuk semua perempuan bahwa anda harus berani keluar dari kekerasan fisik dan verbal terutama dalam ruang lingkup keluarga dan lingkungan. Supaya nanti  jika ditanya “perempuan bisa apa?” anda bisa menjawab dengan penuh keyakinan dan pembuktian bahwa perempuan bisa tonji. Indonesia tanpa perempuan adalah Indonesia yang mati.

Selamat Hari Kartini, semoga pandemi ini segera berlalu.