![]() |
| Amalia : perempuan bisa melakukan apa saja, menjadi apa saja yang ia inginkan, karena dia ada untuk dirinya |
Jika pertanyaan “perempuan bisa apa?” dilontarkan ke pada saya, dengan gamblang saya akan menjawab. “ perempuan tidak bisa apa-apa.”
Itu bukan sifat pesimis, itu kenyataan yang harus kita terima bersama, bahwasahnya perempuan sekarang hanya tinggal duduk manis dengan wajah penuh riasan dan mengenakan pakaian terbaik yang sudah di pilihkan untuknya, entah ia nyaman dengan hal itu atau tidak. Perempuan tidak akan memikirkan itu, asal dia terlihat cantik, itu sudah cukup. Toh itu sudah menggambarkan dirinya sebagai perempuan.
Perempuan di mata masyarakat adalah dia yang berdiam diri dirumah, mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, memasak, mencuci dan merawat anak. Kita belum lagi membahas standar kecantikan yang entah dibuat oleh perempuan itu sendiri ataukah demi kesenangan lelaki?
Perempuan yang cantik adalah dia yang berkulit putih, mulus, glowing, bibir merah merona, dengan senyum menawan. Itu baru di bagian wajah kita belum membahas tubuh rampingnya, gaya rambutnya, dan model pakaiannya. Saya baru tau menjadi perempuan ternyata serempong itu. Entah perempuan yang lain sadar atau tidak. Jawabanya tidak, perempuan tidak pernah sadar akan kerempongan menjadi perempuan sesuai standar masyarakat. Mereka sudah nyaman dengan itu semua. Bagi mereka itu sudah kodrat perempuan, berdandan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Sejak kecil perempuan sudah di tanamkan nilai-nilai keperempuanan, dan norma-norma keperempuanan sesuai standar masyarakat yang ada.
Sama halnya masyarakat beragama, perempuan harus tinggal dirumah, menuruti kata suami, mengurus rumah tangga, menutup aurat, menjaga pandangan dan tutur kata dan masih banyak lainnya yang jelas mengatur perempuan sepenuhnya. Namun pernah tidak lelaki di atur seperti itu?
Begitulah perempuan sudah tidak bisa berpikir, tidak bisa apa-apa pula.
Saya teringat tanggal 21 april mendatang diperingati sebagai hari kartini. Ada berbagai macam cara memperingati hari Kartini, bisa dengan membaca puisi, festival busana dan masih banyak lagi.
Memperingati hari itu bukan hanya sekedar dengan mengigat sosok perempuan keturunan Jawa, berkulit matang sawo itu dan bukan pula dengan mengenakan kostum Kartini kemudian berfoto dengan caption ala-ala perjuangan perempuan kemudian di upload ke media sosial . Cukup dengan tidak melakukan apa-apa.
Ada satu hal yang membuat saya menyenangi R.A Kartini yaitu obsesianya terhadap pendidikan perempuan Eropa kala itu. Perempuan Eropa yang cakap dan mampu menyampaikan pendapatnya di muka umum. Harapan kartini perempuan pribumi indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak dan bisa secakap perempuan Eropa.
Di zaman modern sekarang ini, perempuan sudah memperoleh pendidikan yang layak, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mencanankan pendidikan 12 tahun yang sebenarnya memberi beban kepada mereka yang tidak mampu secara ekonomi.
Kemudian banyak pula dari mereka prempuan-perempuan indonesia yang menempuh pendidikan diluar negeri(bagi yang mampu). Namun berbeda halnya dengan perempuan dari kelas bawah, perempuan-perempuan itu masih harus bergulat melawan stigma negatif terhadap perempuan dan keluar dari sistem masyarakat patriarki.
Patriarki adalah sistem yang mendominasi oleh lelaki. Sistem yang menjadikan lelaki sebagai pemegang kuasa utama, baik diranah politik, sosial, dan ekonomi. Segala sistem yang di bentuk hanya menyenangkan bagi pihak lelaki dan tidak perempuan.
Masih ingat dengan Ni Putu Kariani seorang perempuan dari Bali yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya sendiri. Kariani menerima tindak kekerasan mulai dari kecil sampai besar, misal tubuh disundut rokok, kepala dipukul sampai benjol (dan harus di operasi) terakhir yang menjadi sorotan yaitu ketika kakinya dipotong oleh sang suami.
Dari keterangan pihak keluarga, Kariani sudah mengalami KDRT selama betahun-tahun. Kariani sempat berinisiatif untuk bercerai dengan suaminya namun pihak keluarga tidak menyetujuinya, justru malah meminta Kariani yang sudah babak belur untuk bersabar.
Banyak kiranya faktor penyebab timbulnya tindak KDRT ini, namun tak terlepas dari sistem patriarki. Dimana lelaki dipandang sebagai pemengang kuasa dalam rumah tangga, memiliki otoritas untuk mengatur, memilih, mengarahnkan bahkan memerintah anggota keluarga. Sistem patriarki inilah yang menyebabkan lelaki jadi semena-mena bertidak, seolah yang ia lakukan sudah benar.
Dalam banyak kasus kekerasan maupun pelecehan terhadap perempuan yang akan di salahkan pertama kali adalah perempuannya.
Dalam masyarakat patriarki perempuan akan disalahkan, diaggap tak mampu membela dirinya saat perlaku kekerasan menyerangnya. Oh tunggu dulu, bukankah dalam masyarakat sendiri perempuan di gambarkan lemah, wajar bukan jika dia tidak melawan? Terus kenapa malah disahlahkan? Aneh.
Kasus Kariani merupakan salah satu dari sekian banyak kerugian perempuan dari sistem patriarki. Jadi, perempuan bisa apa? Yah tidak bisa apa-apa.
Perempuan sejak kecil sudah dididik seperti itu, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa berpikir, tidak bisa memutuskan, tidak memiliki relasi kuasa dan bahkan tidak punya otoritas terhadap dirinya sendiri, lemah dan tidak berdaya. Berbeda dengan lelaki, lelaki dididik menjadi pemimpin, tidak cengeng, memiliki kuasa, kuat, rasional, Memiliki otoritas terhadap dirinya dan bijak dalam memutiskan sesuatu.
Perempuan tidak harus melakukan apa-apa, toh semuanya sudah diatur. Tidak perlulah susah payah memperjuangkan keadilan bagaimanapun perempuan akan disalahkan, paling-paling disuruh sabar. Cukup diam, lakukan pekerjaanmu di ranah domestik atau bagi yang belum menikah, silahkan bersolek sesuka hati kalian, berfoto sebanyak-banyaknya dengan berbagai gaya, kemudian upload tanpa takut dilecehkan. Toh kalian di lecehkan, diperkosa, bahkan dianiaya kalian juga yang bakalan disalahnya, dan anehnya yang menyalahkan kalian banyak datang dari sesama perempuan sendiri. Miris.
Lebih miris lagi, di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini perempuan justru menjadikan diri mereka sebagai objek orang lain. Mereka dengan mudahnya memamerkan tubuh mereka di media sosial dengan tarian atau ekspresi yang justru malah memancing para lelaki bejat untuk melecehkan mereka. Namun perempuan itu merasa baik-baik saja, bahkan menikmati segala pujian lelaki terhadap riasan wajah, kulit putihnya dan bahkan bentuk tubuhnya. Lelaki bisa melecehkan perempuan tanpa menyentunya yaitu dengan menghayalkan tubuh si perempuan. Mereka perempuan tidak sadar bahwa mereka tengah dilecehkan, memang perempuan tidak bisa berpikir.
Perempuan jaman sekarang lebih memilih Skincere-an, maskeran, luluran, meke upan demi nampak putih nan glowing di hadapan lelaki. Pada dasarnya memang perempuan yang memancing lelaki. Jadi untuk apa berjuang? Perempuan itu sendiri yang menjadikan dirinya bodoh. Sia-sia lah perjuangan Kartini yang ingin menjadikan perempuan indonesia maju dengan pendidikan, membuat mereka cakap lagi cerdas dalam berpikir guna keluar dari belenggu patriarki yang merugikan.
Sia-sia belaka perjuanganmu Kartini, maksud hati ingin meniru pendidikan kaum kulit putih, yang terjadi perempuan malah meniru warna kulit kaum berkulit putih.
Namun tidak bisa kita pungkiri lelaki ataupun perempuan mereka adalah manusia. Mereka sama dimata Tuhannya, memiliki otak untuk perpikir, saling bertukar pikiran dalam memecahkan sebuah masalah atau menentukan suatu pilihan, bahkan dapat bekerja sama dalam ranah domestik maupun finansial.
Perempuan bukan hanya sekedar objek, bukan hanya sebatas makhluk dapur semata. Perempuan ada untuk dirinya, perempuan adalah manusia. Sebagaimana manusia dikutuk untuk bebas, menentukan pilihan tanpa takut terpengaruh orang lain dan diperbudah orang lain. Dan dari pilihan-pilihan itu menentukan otoritasnya.
Jika ditanya “perempuan bisa apa?” Jawab, “ saya butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menulis ini. Bukan karena kehabisan ide tapi karena saya terjebak dengan tema yang diberikan. Tema yang harus saya katakan aneh dan membingungkan, maksud saya kenapa hal ini harus di pertanyakan?
Jika pertanyaan “perempuan bisa apa?” dilontarkan ke pada saya, dengan gamblang saya akan menjawab. “ perempuan tidak bisa apa-apa.”
Itu bukan sifat pesimis, itu kenyataan yang harus kita terima bersama, bahwasahnya perempuan sekarang hanya tinggal duduk manis dengan wajah penuh riasan dan mengenakan pakaian terbaik yang sudah di pilihkan untuknya, entah ia nyaman dengan hal itu atau tidak. Perempuan tidak akan memikirkan itu, asal dia terlihat cantik, itu sudah cukup. Toh itu sudah menggambarkan dirinya sebagai perempuan.
Perempuan di mata masyarakat adalah dia yang berdiam diri dirumah, mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, memasak, mencuci dan merawat anak. Kita belum lagi membahas standar kecantikan yang entah dibuat oleh perempuan itu sendiri ataukah demi kesenangan lelaki?
Perempuan yang cantik adalah dia yang berkulit putih, mulus, glowing, bibir merah merona, dengan senyum menawan. Itu baru di bagian wajah kita belum membahas tubuh rampingnya, gaya rambutnya, dan model pakaiannya. Saya baru tau menjadi perempuan ternyata serempong itu. Entah perempuan yang lain sadar atau tidak. Jawabanya tidak, perempuan tidak pernah sadar akan kerempongan menjadi perempuan sesuai standar masyarakat. Mereka sudah nyaman dengan itu semua. Bagi mereka itu sudah kodrat perempuan, berdandan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Sejak kecil perempuan sudah di tanamkan nilai-nilai keperempuanan, dan norma-norma keperempuanan sesuai standar masyarakat yang ada.
Sama halnya masyarakat beragama, perempuan harus tinggal dirumah, menuruti kata suami, mengurus rumah tangga, menutup aurat, menjaga pandangan dan tutur kata dan masih banyak lainnya yang jelas mengatur perempuan sepenuhnya. Namun pernah tidak lelaki di atur seperti itu?
Begitulah perempuan sudah tidak bisa berpikir, tidak bisa apa-apa pula.
Saya teringat tanggal 21 april mendatang diperingati sebagai hari kartini. Ada berbagai macam cara memperingati hari Kartini, bisa dengan membaca puisi, festival busana dan masih banyak lagi.
Memperingati hari itu bukan hanya sekedar dengan mengigat sosok perempuan keturunan Jawa, berkulit matang sawo itu dan bukan pula dengan mengenakan kostum Kartini kemudian berfoto dengan caption ala-ala perjuangan perempuan kemudian di upload ke media sosial . Cukup dengan tidak melakukan apa-apa.
Ada satu hal yang membuat saya menyenangi R.A Kartini yaitu obsesianya terhadap pendidikan perempuan Eropa kala itu. Perempuan Eropa yang cakap dan mampu menyampaikan pendapatnya di muka umum. Harapan kartini perempuan pribumi indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak dan bisa secakap perempuan Eropa.
Di zaman modern sekarang ini, perempuan sudah memperoleh pendidikan yang layak, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mencanankan pendidikan 12 tahun yang sebenarnya memberi beban kepada mereka yang tidak mampu secara ekonomi.
Kemudian banyak pula dari mereka prempuan-perempuan indonesia yang menempuh pendidikan diluar negeri(bagi yang mampu). Namun berbeda halnya dengan perempuan dari kelas bawah, perempuan-perempuan itu masih harus bergulat melawan stigma negatif terhadap perempuan dan keluar dari sistem masyarakat patriarki.
Patriarki adalah sistem yang mendominasi oleh lelaki. Sistem yang menjadikan lelaki sebagai pemegang kuasa utama, baik diranah politik, sosial, dan ekonomi. Segala sistem yang di bentuk hanya menyenangkan bagi pihak lelaki dan tidak perempuan.
Masih ingat dengan Ni Putu Kariani seorang perempuan dari Bali yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya sendiri. Kariani menerima tindak kekerasan mulai dari kecil sampai besar, misal tubuh disundut rokok, kepala dipukul sampai benjol (dan harus di operasi) terakhir yang menjadi sorotan yaitu ketika kakinya dipotong oleh sang suami.
Dari keterangan pihak keluarga, Kariani sudah mengalami KDRT selama betahun-tahun. Kariani sempat berinisiatif untuk bercerai dengan suaminya namun pihak keluarga tidak menyetujuinya, justru malah meminta Kariani yang sudah babak belur untuk bersabar.
Banyak kiranya faktor penyebab timbulnya tindak KDRT ini, namun tak terlepas dari sistem patriarki. Dimana lelaki dipandang sebagai pemengang kuasa dalam rumah tangga, memiliki otoritas untuk mengatur, memilih, mengarahnkan bahkan memerintah anggota keluarga. Sistem patriarki inilah yang menyebabkan lelaki jadi semena-mena bertidak, seolah yang ia lakukan sudah benar.
Dalam banyak kasus kekerasan maupun pelecehan terhadap perempuan yang akan di salahkan pertama kali adalah perempuannya.
Dalam masyarakat patriarki perempuan akan disalahkan, diaggap tak mampu membela dirinya saat perlaku kekerasan menyerangnya. Oh tunggu dulu, bukankah dalam masyarakat sendiri perempuan di gambarkan lemah, wajar bukan jika dia tidak melawan? Terus kenapa malah disahlahkan? Aneh.
Kasus Kariani merupakan salah satu dari sekian banyak kerugian perempuan dari sistem patriarki. Jadi, perempuan bisa apa? Yah tidak bisa apa-apa.
Perempuan sejak kecil sudah dididik seperti itu, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa berpikir, tidak bisa memutuskan, tidak memiliki relasi kuasa dan bahkan tidak punya otoritas terhadap dirinya sendiri, lemah dan tidak berdaya. Berbeda dengan lelaki, lelaki dididik menjadi pemimpin, tidak cengeng, memiliki kuasa, kuat, rasional, Memiliki otoritas terhadap dirinya dan bijak dalam memutiskan sesuatu.
Perempuan tidak harus melakukan apa-apa, toh semuanya sudah diatur. Tidak perlulah susah payah memperjuangkan keadilan bagaimanapun perempuan akan disalahkan, paling-paling disuruh sabar. Cukup diam, lakukan pekerjaanmu di ranah domestik atau bagi yang belum menikah, silahkan bersolek sesuka hati kalian, berfoto sebanyak-banyaknya dengan berbagai gaya, kemudian upload tanpa takut dilecehkan. Toh kalian di lecehkan, diperkosa, bahkan dianiaya kalian juga yang bakalan disalahnya, dan anehnya yang menyalahkan kalian banyak datang dari sesama perempuan sendiri. Miris.
Lebih miris lagi, di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini perempuan justru menjadikan diri mereka sebagai objek orang lain. Mereka dengan mudahnya memamerkan tubuh mereka di media sosial dengan tarian atau ekspresi yang justru malah memancing para lelaki bejat untuk melecehkan mereka. Namun perempuan itu merasa baik-baik saja, bahkan menikmati segala pujian lelaki terhadap riasan wajah, kulit putihnya dan bahkan bentuk tubuhnya. Lelaki bisa melecehkan perempuan tanpa menyentunya yaitu dengan menghayalkan tubuh si perempuan. Mereka perempuan tidak sadar bahwa mereka tengah dilecehkan, memang perempuan tidak bisa berpikir.
Perempuan jaman sekarang lebih memilih Skincere-an, maskeran, luluran, meke upan demi nampak putih nan glowing di hadapan lelaki. Pada dasarnya memang perempuan yang memancing lelaki. Jadi untuk apa berjuang? Perempuan itu sendiri yang menjadikan dirinya bodoh. Sia-sia lah perjuangan Kartini yang ingin menjadikan perempuan indonesia maju dengan pendidikan, membuat mereka cakap lagi cerdas dalam berpikir guna keluar dari belenggu patriarki yang merugikan.
Sia-sia belaka perjuanganmu Kartini, maksud hati ingin meniru pendidikan kaum kulit putih, yang terjadi perempuan malah meniru warna kulit kaum berkulit putih.
Namun tidak bisa kita pungkiri lelaki ataupun perempuan mereka adalah manusia. Mereka sama dimata Tuhannya, memiliki otak untuk perpikir, saling bertukar pikiran dalam memecahkan sebuah masalah atau menentukan suatu pilihan, bahkan dapat bekerja sama dalam ranah domestik maupun finansial.
Perempuan bukan hanya sekedar objek, bukan hanya sebatas makhluk dapur semata. Perempuan ada untuk dirinya, perempuan adalah manusia. Sebagaimana manusia dikutuk untuk bebas, menentukan pilihan tanpa takut terpengaruh orang lain dan diperbudah orang lain. Dan dari pilihan-pilihan itu menentukan otoritasnya.
Jika ditanya “perempuan bisa apa?” Jawab, “perempuan bisa melakukan apa saja, menjadi apa saja yang ia inginkan, karena dia ada untuk dirinya.”
Tapi sayangnya, perempuan tidak pernah memikirkan hal itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar