Minggu, 27 Oktober 2019

Bagaimana Seharusnya Pemuda



“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Sumeru dari akarnya, Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia” –Bung Karno

Etimologi Pemuda berasal dari bahasa Arab disebut dengan Syabab yang bermakna kuat, muda, indah dan berkembang. Sedangkan menurut Mulyana (2011) pemuda adalah individu yang memiliki karakter dinamis yang artinya bisa memiliki karakter yang bergejolak, optimis dan belum mampu mengendalikan emosi yang stabil.

Hal tersulit bagi penulis dalam menyelesaikan tulisan ini adalah bagaimana penulis harus menjadi teladan. Karena subtansi tulisan ini merupakan bentuk eksistensi pemuda yang semestinya ada.  Siapa yang tak ingin menjadi muda atau siapa yang tak ingin menjadi bintang yang paling terang diantara benda angkasa yang lainnya. Semua yang kini menjadi tua tentu pernah melalui bagaimana menjadi muda tapi tidak semua yang muda mampu menua.

Dulu pemuda dikenal sebagai sosok algojo terbaik nan berani, cerdas nan cendekia, hari dengan sederet prestasi, kepekaan sosial yang tinggi dan selalu menempati posisi terdepan dalam rana revolusi. Menjelang hari sumpah pemuda, apakah pemuda yang heroik masih ada pada era milenial saat ini  ? atau rupa pemuda sudah ditenggelamkan oleh kegelapan zaman dan teknologi  ?

Usia Produktif

Pemuda selalu identik dengan usia yang produktif. Pemuda digadang gadang sebagai pelopor dan mampu memproduksi sesuatu untuk kemajuan peradaban. Namun yang terjadi saat ini adalah sebaliknya. Usia yang seharusnya produktif, malah tidak produktif. Usia dimana kita seharusnya berkontribusi entah itu karya, inovasi dan lain sebagainya kita malah terjebak dalam labirin ketidakproduktifan. Kita terjebak pada kesenangan, kemudahan, keinstanan hampir disetiap aspek kehidupan. Sehingga menyeret kita dalam garis dan ruang ketidakmampuan memproduksi apa apa. Kita hanya menikmati sesuatu tanpa memikirkan bagaimana cara menciptakan sesuatu untuk orang lain nikmati. Bisa dikatakan, pemuda dikuasai ego keserakahan dalam  mengkonsumsi produk. Kita dipaksa untuk berdiri pada posisi yang sebenarnya membuat risih tapi sisi lain bingung mau berbuat apa. Lagi lagi hal ini karena keterbasan ketidakmpuan kita akan suatu hal yang dibutuhkan. Ketidaktahuan kita meramalkan bagaimana kehidupan manusia di masa yang akan datang. Sehingga mematikan langkah dan pola pikir kita untuk tidak memikirkan tentang itu semua, memaksa kita tetap pada ruang ketidakmampuan apa apa.

Pengaruh keluarga dan lingkungan

Dalam kamus Sosiologi dikenal 4 tahap dalam proses sosialisasi. Tahap persiapan dipahami sabagai tahap dimana peran orang tua sangat dibutuhkan sebagai pengasuh dan pendidikan utama bagi setiap anak. Tahap meniru dimana anak mulai mampu menirukan aktivitas ringan orang orang disekitarnya. Tahap siap bertindak ditandai dengan kemampuan anak yang sudah mampu melakukan aktivitas tanpa harus meniru. Proses sosialisasi yang terakhir  adalah tahap dimana setiap individu sudah dianggap siap beradapsi dengan masyarakat yang kompleks serta siap menerima nilai nilai kolektif termasuk nilai dan norma yang ada lingkungannya.

Pemuda dari perspektif Sosiologi Pendidikan

Apa tujuan pendidikan sebenarnya  ? apakah pendidikan untuk mengajarkan budaya da nilai nilai masyarakat kepada para pemuda  ? Pendidikan saat ini tidak lain untuk menyiapkan pemuda menuju dunia kerja, untuk mereproduksi sistem kelas dan mengajar orang tentang kedudukan mereka dalam kehidupan, untuk menghindari anak anak berkeliaran di jalanan hingga mereka cukup usia untuk bekerja serta untuk menciptakan tenaga kerja terlatih. Tak perlu heran sehingg mengapa generasi muda saat ini setelah menyelesaikan pendidikan pikirannya bagaimana cara mendapat pekerjaan. Yang menjadi promlem besarnya adalah calon pekerja tidak memiliki kemampuan dalam bidang pekerjaan tertentu. Hal ini kita sadari bersama menjadi menyebab pengangguran skala besar. faktanya lembaga penyumbang pengangguran terbesar berasal dari lembaga pendidikan.

Seharusnya pemuda hadir dengan kecakapannya dalam menciptakan lapangan kerja agar dapat memperkerjakan, seharusnya pemuda muncul sebagai sosok yang memprakarsai inovasi dan berkarya dalam menciptakan keseimbagan masyarakat bukan hanya untuk kepentingan negara semata. Akhir kata penulis berpesan khusus pada dirinya sendiri dan para pemuda agar dapat berkontribusi apapun itu untuk kemajuan bangsa da negara.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke 91 tahun