![]() |
| Wisata Kolam Renang Galesong |
Perkembangan teknologi yang begitu pesat adalah suatu hal yang mengusik diri penulis saat menikmati libur perkuliahan di kampung halaman. Penulis kian terus berpikir bagaimana nasib manusia ke depan dengan teknologi yang kian hari kian berkembang sepesat saat ini. Mungkin 20 sampai 30 tahun kedepan akan ada manusia yang melahirkan robot akibat dari kecerdasan manusia yang mampu membuat rahim buatan atau bisa jadi robot yang malahirkann manusia akibat dari perkawinan silang antara manusia dengan robot. Dalam tulisan kali ini, penulis akan mengajak para pembaca untuk melakukan penetrasi lebih jauh memasuki imajinasi liar dari penulis. Tak hanya itu, penulis juga mencoba meramalkan bagaimana kehidupan manusia dimasa yang akan datang dengan bercampur baurnya manusia dengan teknologi modern.
Berangkat dari bangunan imajinasi yang dimiliki penulis yang kemudian berujung pada sebuah pertanyaan yang mendasar. Mengapa kemajuan peradaban manusia di identik dengan kemajuan teknologi ? Mampukah manusia hidup tanpa teknologi ? dan apa dampak berkembangnya teknologi ?
Menurut wikipedia, Sejarah peradaban manusia selalu disangkutpautkan dengan kemajuan teknologi. Peradaban manusia dianggap mengalami kemajuan jika teknologinya juga maju. Hal ini yag kemudian membangun asumsi penulis bahwa teknologi lahir bersamaan dengan peradaban manusia. Peradaban manusia adalah saudara kembar teknologi yang dilahirkan oleh bumi. Hal serupa dikatakan oleh Ahli antropolog Lewis H.Morgan bahwa perkembangan teknologi adalah faktor utama dari berkembangnya peradaban manusia. Jika Lewis mengatakan bahwa teknologi adalah faktor utama, penulis kemudian memaknai bahwa ada faktor lain selain dari pada teknologi. Namun menulis belum menemukan alasan faktual kenapa teknologi menjadi faktor utama.
Diluar dari pada asumsi Lewis, penulis berpikir bahwa teknologi bukanlah faktor utama dari berkembangnya peradaban. Penulis yakin bahwa peradaban manusia dibangun dari ilmu pengetahuan. Iya, karena menurut penulis, teknologi adalah produk dari kecerdasan manusia bukan produk mesin. Andai kata manusia tidak secerdas itu mana mungkin teknologi dapat diciptakan. Hanya saja, manusia lebih merasakan keuntungan dari penggunaan teknologi sehingga mengasumsikan bahwa teknologi adalah pondasi kemajuan peradabannya.
Hal menarik berikutnya adalah bagaimana saat ini manusia terlalu terobsesi dari sekian banyak keunggulan dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Sebagian besar manusia menyadari bahwa teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam kesehariannya. Namun dibalik semua itu menurut penulis teknologi dapat menurunkan kemampuan alamiah manusia. Teknologi secara perlahan mengkonstruk pikiran manusia agar segala hal aktivitas manusia akan lebih praktis dilakukan dengan teknologi. Hal ini yang kemudian dapat membuat manusia cendrung malas dan kehilangan hakikatnya sebagai makhluk sosial alamiah. Ketergantungan manusia terhadap teknologi inilah yang menurut penulis akan makin menurunkan etos kerja manusia sehingga bukan tidak mungkin teknologi yang diciptakan dapat melampaui kemampuan manusia itu sendiri. Dengan ketergantungan manusia terhadap teknologi yang kemudian menggiring alam bawah sadarnya bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa teknologi.
Dengan argumentasi diatas, penulis kemudian menyimpulkan bahwa teknologi tidak lahir dari peradaban manusia tapi peradaban manusialah yang melahirkan teknologi. Menurut logika penulis, teknologi berkembang karena dua faktor yaitu hasrat keingintahuan manusia yang tinggi terhadap sesuatu dan kebutuhan manusia yang kian semakin beragam bentuknya.
Di era revolusi industri 4.0 saat ini menurut penulis adalah era dimana persaingan manusia dan teknologi di filmkan. Dimanapun manusia berada maka teknologi pasti ada. Sungguh ketergantungan yang sudah kualat.
Perkembangan teknologi yang semakin maju seperti penciptaan robot dengan serba fungsi, tentu menyisahkan kekewatiran penulis terhadap eksistensi manusia di buminya sendiri. Apakah para pembaca tulisan ini mengartikan kemajuan teknologi sebagai simbol kemajuan peradaban manusia atau kemajuan teknologi sekarang ini dianggap sebagai tantangan sekaligus ancaman bagi manusia itu sendiri. Tergantung perspektif kita masing masing.
Namun pada tulisan kali ini, penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh fisikawan Inggris. Yakni Stephen Hawking yang mengatakan kemajuan dalam bidang teknologi lambat laun dapat mengancam kehidupan manusia. Manusia akan kalah jika ingin bersaing dengan teknologi yang dibuatnya, sebab manusia dibatasi dengan evolusi biologis yang sangat lambat dibanding dengan robot misalnya. Selain itu, penulis menganggap bahwa mesin dapat melakukan pekerjaan lebih baik, bekerja lembur tanpa kelelahan, tidak perlu istirahat, tidak banyak tuntutan serta tidak mengenal diskriminasi umur, gender dan ras dalam melayani manusia. Ditambah lagi, orientasi perusahaan industri sekarang ini beriorientasi pada ke efektifan dan ke efisienan pekerjaan. Artinya apa, jika robot lebih dapat mencapai kedua hal yang menjadi orientasi perusahaan industri tertentu maka penulis berkesimpulan bahwa posisi manusia akan digantikan oleh robot robot yang diciptakannya sendiri.
Ketakutan ketakutan tersebut menurut penulis di perparah dengan pembuatan film film yang mengusung latar belakang perkembangan dan kemajuan teknologi. Seperti misalnya pada film terminator tahun 1984 yang menawarkan robot dalam bentuk persis manusia yang dilengkapi dengan kekuatan super. Film mini menceritakan seorang robot yang ditugaskan untuk membunuh seorang anak dari seorang ibu yang di ramalkan di masa depan akan menjadi pemimpin melawan mesin mesin dan masih banyak lagi film film yang secara jelas menarasikan bahwa ancaman dari perkembangan teknologi terhadap eksistensi manusia amat teramat jelas nyatanya.
Belum lagi pembuatan teknologi seperti mobil dan pesawat tanpa pengemudi, robot dengan kemampuan menghancurkan dan teknologi yang dapat membuat manusia hidup kembali setelah meninggal. Penulis kemudian tidak bisa membanyangkan betapa rumitnya kehidupan manusia di masa yang akan datang.
Sebagai penutup, penulis menawarkan alternatif yang mampu minimalisir kecelakaan teknologi terhadap eksistensi manusia. Penulis menyarankan agar sebaiknya manusia saat ini tidak memilih untuk bersaing dengan teknologi tapi bagaimana manusia menjadi patner dalam memanfaatkan teknologi. Manusia harus berteman dengan teknologi yang mereka buat dan juga manusia sebaiknya memilih disiplin atau tipe pekerjaan yang kira kira tidak mampu dikerjakan oleh teknologi. Jangan sampai manusia menciptakan kepunahannya sendiri dengan membuat teknologi yang notabenya mengancam dan menggatikan peran manusia sebagai khalifah dunia ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar