![]() |
| Lokasi Pelataran Phinisi UNM |
Suatu tema yang menarik menurut penulis dalam postingan kali ini. Hal subtansial yang penulis hendak sampaikan adalah bagaimana korelasi antara manusia dengan teknologi. Yang dimaksud teknologi dalam hal ini adalah media sosial.
Media sosial merupakan salah satu alternatif komunikasi modern yang sedang menjamur saat ini. Hampir setiap keseharian kita tidak pernah terlepas dari media sosial. Hal ini nampaknya juga dirasakan oleh penulis sendiri. Penulis kemudian menganggap bahwa kehadiran media sosial adalah candu bagi manusia modern saat ini.
Menurut hasil penelitian salah satu perusahaan teknologi Amerika pada tahun 2018, Indonesia adalah negara ketiga terbesar yang penduduknya menggunakan media sosial dibawah Filipina dan Brazil. Ada sebanyak 130 juta masyarakat indonesia menjadi pengguna aktif media sosial. Penulis kemudian tertarik untuk mengetahui mengapa kita begitu candunya terhadap media sosial. Apa yang ditawarkan media sosial kepada manusia ? apa yang kemudian membuat kita candu terhadapnya ?
Dengan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian begitu pesatnya, disadari atau tidak disadari kehadiran teknologi dan media sosial telah mengubah cara berinteraksi manusia secara cepat dan fundamental. Kecangihan teknologi dan media sosial menawarkan beragam kemudahan interaksi bagi penggunanya terutama dalam hal ketepatan, kecepatan, keefisienan dan lain sebagainya. Penulis menganalogikan penggunaan media sosial sebagai obat yang dalam penggunaan sudah mencapai titik over sehingga tentu akan menimbulkan efek samping yang dapat berakibat fatal dan serius terhadap manusia. Iya, hal yang sama berlaku pada kita sebagai penggunaan media sosial yang tidak terkontrol lagi. Hal ini kemudian membuat kita candu dan seakan akan tidak bisa lepas dari media sosial.
Dari hasil penelitian lainnya, sebanyak 8 dari 10 orang hampir menggunakan seluruh media sosial yang populer seperti Whatsapp, Facebook, Twitter, Youtube dan Instagram. Uniknya hal itu didasari bahwa hampir seluruh kebutuhan manusia memang sudah dapat dipenuhi hanya dengan menekan sebuah tombol pada ponsel yang ada disaku kita. Iya, hampir semua aktivitas manusia bisa dilakukan melalui media sosial seperti membeli makanan, belanja, komunikasi atau hanya sekedar stalking informasi. Parahnya, dengan pemenuhan kebutuhan serba instan tersebut yang kemudian menurut penulis dapat membuat manusia semakin terasing dan lambat laun akan mengalami krisis identitas. Hal ini dikarenakan manusia akan lebih memilih berkomunikasi di dunia maya dari pada bertemu langsung di dunia nyata.
Fakta lainnya sebagai musabab dari ketergantungan manusia terhadap media sosial adalah membuka pola aksi tindak kriminal yang berbasis digital. Dengan menekan tombol di komputer atau ponsel saja sudah dapat memakan korban. Iya, sudah begitu beragam kasus kejahatan akibat dari pada penggunaan media sosial secara berlebihan dan tidak bijak. Maraknya perselingkuhan, penipuan dan kasus pemerkosaan yang terkadang berujung pada pembunuhan menjadi contoh kasus terbanyak akibat dari penggunaan media sosial yang tidak bijak.
Penulis kemudian menginterpretasikan bahwa umumnya manusia menggunakan media sosial untuk memperoleh alternatif agar dapat memujudkan aktualiasi dirinya sebagai makhluk sosial. Aktualisasi diri yang dimaksud penulis adalah bagaimana manusia memperoleh suatu kepuasan terhadap prestasi atau pencapaian dirinya agar diketahui oleh orang banyak. Menariknya, kita sebagai pengguna media sosial akan lebih senang terhadap siapa yang telah melihat update seperti misalnya status atau story serta tayangan langsung yang terdapat di beberapa aplikasi. Kita akan bolak balik melihat siapa saja yang telah menyaksikan update kita untuk sekedar tahu dan mendapatkan kebanggaan atas pencapaian yang didapat misalnya melalui tombol like atau cinta. Faktanya lainnya adalah kita tidak dapat melewati 3 detik tanpa melihat gadget yang dipegang bahkan ada beberapa yang selalu mengenggam ponselnya untuk mengantisipasi adanya getaran notifikasi yang muncul. Wah, Saking candunya kita terhadap media sosial bukan.
Eksistensi di media sosial begitu penting bagi masyarakat saat ini. Manusia berlomba lomba mengunggah apa yang ingin mereka tampilkan ke khalayak umum. Mirisnya, media sosial bahkan telah menjadi panggung sandiwara. Tidak jarang kehidupan di media sosial sangat bertolak belakang dengan kehidupan aslinya. Dengan mempostingnya melalu media sosial, manusia dapat memperoleh kepuasan tersendiri. Melalui media sosial, manusia berharap mendapatkan pengakuan diri terhadap pencapaiannya. Ada juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan dirinya bahkan sampai pada hal hal yang tak lazim seperti menjual tubuhnya melalui perantara media sosial. Hal hal demikian yang kemudian menurut penulis membuat kita candu terhadap media sosial. Saking candunya, menurut sebuah penelitian masyarakat Indonesia rata rata menghabiskan 3 jam 23 menit perhari untuk mengakses media sosial dengan rata rata memeriksa ponselnya sebanyak 157 kali dalam sehari. Bahkan saat kita bangun tidur, kita buka media sosial. Saat makan, buka media sosial, sampai menjelang tidur, kita masih sibuk bermain media sosial.
Diluar dari semua itu, teknologi pada hakikatnya diharapkan dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun tidak bisa dipungkiri dibalik banyaknya manfaat teknologi dapat pula menjadi boomerang bagi penggunanya. Kemungkinan terburuknya adalah bukan manusia yang mengusai teknologi tapi teknologilah yang menguasai manusia. Bukan tidak mungkin, belenggu penjajahan dan perbudakan yang dimotori oleh teknologi akan mengikat manusia. Hanya saja bentuk penjajahan dan perbudakan itu tidak lagi berbentuk fisik tetapi berpengaruh kuat dalam pembentukan mental dan kondisi psikis manusia. Sehingga pada akhirnya, manusia tidak lagi hidup sebagaimana manusia sebagai makhluk sosial tetapi sebaliknya, teknologi akan mengutuk kita menjadi manusia sebagai makhluk media sosial.
Mengakhiri tulisan ini, penulis mengutip pesan moral dari salah satu pendiri pendamping facebook Justin Rosenstein yang mengatakan “Hidup manusia terbatas dan fana, jika kita tidak gigih melawannya, maka komputer dan perangkat mobile bakal merenggut perhatian kita sepanjang hari”.
Mari untuk menolak menjadi budak dengan menggunakan media sosial dengan cerdas dan sewajarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar