Rabu, 12 Juni 2019

Pelajaran Hidup dari Paman

Foto keadaan terakhir paman sebelum berpulang
Jauh-jauh hari setelah mendengar kabar beliau sedang jatuh sakit, dalam hati terbesit niat untuk segera menjenguk. Entah apa yang membawa ku untuk bertemu beliau.

Aku mengenal putrinya di media sosial. Melalui grup whatsapp yang kami buat untuk kawan kawan mahasiswa sedaerah, kita kemudian berkenalan. Beberapa hari setelah itu, kami sepakat bertemu di alun alun kota barru untuk membicarakan beberapa hal terkait kepemudaan. Putrinya nampak begitu periang dan menarik dijadikan sebagai kawan diskusi. Setelah pertemuan itu, kita lebih sering komunikasi lewat medsos ketimbang bertemu. Jauh sebelumnya, bapak beliau sudah dirawat di salah satu rumah sakit umum kota Pare-Pare. Kemudian paman dirujuk ke rumah sakit umum makassar 3 minggu yang lalu.  

2 hari yang lalu, kita dipertemukan kembali dengan suasana yang begitu berbeda. Ini pertemuan yang kedua namun pertemuan pertama kalinya bersama orang tuanya. Terlihat raut wajah yang begitu jauh dari kesan riang yang selalu dia nampakkan selama ini. Ibunya yg ku sapa berdiri setia mendampingi paman yang terbaring lemah diatas pembaringannya. Paman menderita penyakit paru paru juga terdapat benjolan keras dihulu hatinya. Sebelumnya paman divonis menderita TBC namun sudah dikatakan sembuh total sebelum kedatangan ku.

Ini kesan pertama kali saya bertemu dengan orang tua putri periang itu. Terlebih dengan kedua orang tua nya, sebelumnya kita tak pernah bersua dan saling kenal mengenal. Saat ku sambangi paman, beliau menguatkan diri untuk menyambut tamu nya dengan begitu arif. Paman menyambut kami dengan duduk manis dengan senyum selamat datang. Paman menatap kami bagai anak kandungnya sendiri. sesekali ia melempar senyum. Kami mengatakan “lekas sembuh pak, bagaimana keadaan bapak sekarang”. Sesekali saya mencandai beliau dengan ucapan “anak muda harus kuat pak” kemudian beliau tersenyum dengan mengangkat satu tangan jempolnya. Tak lama paman duduk dan menyapa tamunya, beliau meminta untuk dibaringkan kembali. Saya sadar betul beliau selalu memandang cairan impusnya yang setia menemaninya selama di rumah sakit. Sarapan paman adalah bubur yang disediakan oleh dokter. Malam itu pula, paman meminta teh yang merupakan pantangan untuknya. Kata putrinya, paman juga suka menonton film tinju, sambil terbaring paman terlihat begitu menikmati tontonannya.

Setelah kami merasa cukup untuk bertemu paman, kami kemudian pamit. Putrinya yang begitu baik mengiringiku sampai depan pintu keluar ruang rawat paman.

Keesokan malam harinya, ba’da isya saya menerima kabar putrinya bahwa paman membutuhkan bantuan darah segera. Teman teman kemudian segera membantu untuk mendpatkan info dan pendonor yang siap malam itu. Berselang beberapa menit , kami putus kontak dengan putrinya. Hal buruk[un seketika meracuni pikiran. Dan benar, setelah beberapa menit kemudian, tiba tiba deringan telfon dari putri terdengar dengan isak tangis yang mendalam. Keadaan pecah saat mendegar kabar itu, “akbar bapak meninggal”. Ya Allah, aku berpikir ini semua adalah murni salahku. Entah itu karena aku tidak sigap untuk mencarikan darah yang paman butuhkan dan juga aku memilih pamit malam itu dan tidak menemaninya. Sungguh penyesalan yang mendalam meninggalkan paman waktu itu. 
Malam itu saya dikampus dan segara ke rumah sakit bersama teman ku. 
Tagis harupun pecah saat saya memasuki ruang dimana paman dirawat. Terlihat seorang wanita tua yakni istri paman yang tampak murun dengan air mata yang perlahan habis dan mengering. Ibu memelukku dengan sangat dalam dan menyentuh. Aku turut dalam duka mendalam itu. Ku sentuh raga paman yang sudah terbaring suri. Ku pandangi wajah beliau yang begitu pucat. Kemudian putrinya datang menghampiriku dengan mukenahnya yang anggun. Putrinya kembali mengatakan “bapak sudah tiada”. Kami duduk berdampingan dengan duka yang sama. Sementara ibu yang begitu setia duduk disamping paman yang dikasihinya. Putrinya mengatakan bahwa setelah saya pamit , katanya paman mencari saya  paman berkata “kemana teman mu, kenapa cepat pulang”. Hal ini yang membuat saya samakin menyesal pamit malam itu. 

Diluar dari semua itu, saya yakin bahwa tuhan adalah perencana terbaik. Tuhan menambahkan umur paman sampai saya bertemu beliau. Tuhan maha baik memberi saya begitu banyak pelajaran saat bertemu paman.  
“Hidup tidak selamanya tentang bahagia, dikala kita tertimpa musibah, menyerah bukan satu satunya pilihan untuk tetap bersama orang tercinta. Berjuanglah meski tak ada jaminan takdir untuk kita sebagai hambanya” 

Beliau meninggal pada saat seorang pria selesai membacakannya ayat suci Al Quran dan sementara putrinya sedang dalam keadaan shalat. Semoga beliau diberikan tempat terbaik disisinya dan segala amal perbuatan baik dan segala kesalahan beliau diterima dan diampuni oleh Allah yang maha pengampung dan penyayang.

Terima kasih paman, engkau pahlawan keluarga kecil kami. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar